JAYAPURA — Yanni menjelaskan bahwa arahan kepada Mensesneg Prasetyo Hadi disampaikan langsung oleh Presiden agar agenda peresmian disiapkan dalam sekitar dua pekan. Menurutnya, rencana kunjungan itu menegaskan perhatian kepala negara terhadap pelayanan kesehatan masyarakat Papua.
"Presiden menyampaikan akan ke Papua untuk meresmikan rumah sakit. Beliau juga mengarahkan Pak Mensesneg agar diagendakan sekitar dua minggu atau awal Oktober," ujar Yanni kepada wartawan di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
RSUP Jayapura Jadi Rujukan Utama Kawasan Timur Indonesia
RSUP Jayapura menempati posisi strategis sebagai pusat rujukan layanan kesehatan di kawasan Timur Indonesia. Fasilitas ini melayani penyakit prioritas seperti kanker, jantung, stroke, dan uronefrologi.
Keberadaan rumah sakit tersebut diharapkan memangkas kebutuhan pasien Papua berobat ke luar daerah. Selama ini, banyak warga harus menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan penanganan medis yang memadai.
Yanni Minta Layanan Merata hingga Kampung Terpencil
Yanni menilai fasilitas RSUP Jayapura belum cukup jika tidak diikuti pemerataan layanan hingga daerah yang jauh dari pusat kota. Ia berharap masyarakat dari seluruh Tanah Papua bisa mengakses pelayanan kesehatan yang layak.
"RSUP ini bukan hanya untuk Kota Jayapura. Harapannya, masyarakat dari seluruh Tanah Papua, termasuk daerah terpencil, bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak," kata Yanni.
Jejak Peninjauan RSUP Jayapura April 2026
Perhatian Yanni terhadap sektor kesehatan Papua terlihat dari sejumlah agenda sepanjang 2026. Pada April lalu, ia meninjau RSUP Jayapura bersama Wakil Menteri Kesehatan.
Dalam peninjauan itu, Yanni menyebut RSUP Jayapura sebagai rujukan utama layanan kesehatan untuk kawasan Timur Indonesia hingga Pasifik Barat. Ia juga menyoroti fasilitas modern, peralatan medis, dan kemampuan tenaga kesehatan di rumah sakit tersebut.
Dorongan Penanganan HIV/AIDS hingga Kusta di Papua
Pada Juni 2026, Yanni yang juga menjabat Ketua DPD Gerindra Papua mendorong terobosan penanganan HIV/AIDS, TBC, malaria, dan kusta. Diskusi melibatkan dokter, tenaga kesehatan, tokoh agama, serta pegiat kesehatan.
Ia menyoroti persoalan akses pemeriksaan, deteksi dini, dan stigma terhadap penderita. Menurut Yanni, pembangunan kesehatan Papua harus menjawab kebutuhan masyarakat dari hulu hingga layanan medis.
"Pelayanan kesehatan harus semakin merata dan dapat dirasakan hingga ke kampung kampung terpencil di Papua," pungkas Yanni.