Pencarian

Penelitian Baru: Matahari Diduga Pernah Menelan Super-Bumi di Awal Sejarahnya

Selasa, 29 September 2026 • 13:49:31 WIB
Penelitian Baru: Matahari Diduga Pernah Menelan Super-Bumi di Awal Sejarahnya
Ilustrasi Matahari dan planet super-Bumi dalam penelitian evolusi bintang.

PAPUA — Matahari diduga pernah menelan sebuah planet super-Bumi dengan massa lima hingga sepuluh kali massa Bumi pada miliaran tahun lalu, menurut penelitian baru yang diterbitkan di jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. Studi yang dipimpin Mutlu Yildiz dari Ege University, Turki, ini berpendapat jejak peristiwa kanibalisme kosmik tersebut mungkin masih tersimpan di dalam inti Matahari. Temuan ini berpotensi menjelaskan mengapa Tata Surya tidak memiliki planet super-Bumi seperti yang umum ditemukan di sistem planet lain.

Mutlu Yildiz dan tim peneliti dari Ege University menguji hipotesis bahwa Matahari muda pernah menelan planet yang beberapa kali lebih masif daripada Bumi. Mereka memodelkan evolusi Matahari menggunakan perangkat lunak evolusi bintang tingkat lanjut, lalu membandingkan hasilnya dengan pengamatan presisi terhadap bagian dalam bintang tersebut.

Model yang paling sesuai dengan karakteristik Matahari saat ini mengarah pada kesimpulan bahwa planet yang ditelan memiliki massa antara lima hingga sepuluh kali massa Bumi, jenis yang dikenal sebagai super-Bumi. Rentang massa spesifik itu muncul dari perhitungan yang menghubungkan struktur internal Matahari dengan komposisi kimianya.

Jejak Kimia yang Mungkin Masih Tersimpan

Yildiz menjelaskan bahwa planet tersusun dari material yang secara kimiawi berbeda dari gas di cakram protoplanet, awan gas dan debu pipih yang mengelilingi bintang muda. Perbedaan komposisi itu menjadi dasar dugaan bahwa penelanan planet bisa meninggalkan jejak kimia permanen di dalam Matahari.

"Studi baru kami menunjukkan bahwa sebuah planet yang beberapa kali lebih masif daripada Bumi mungkin telah jatuh ke Matahari muda dan meninggalkan jejak kimia yang bertahan lama jauh di dalamnya," kata Yildiz, dikutip dari Space.com.

Ia menambahkan bahwa timnya sengaja menelusuri apakah berbagai anomali Matahari yang selama ini sulit dijelaskan bisa memiliki akar yang sama dalam sejarah kimia awal bintang tersebut.

Anomali Matahari yang Belum Terjawab

Selama ini, model evolusi bintang standar tidak sepenuhnya cocok dengan pengamatan terhadap Matahari. Ada perbedaan pada kedalaman zona konveksi dan struktur kecepatan suara tepat di bawah zona tersebut. Permukaan Matahari juga diketahui kekurangan unsur litium dibandingkan prediksi model.

"Dengan memodelkan evolusi Matahari dan membandingkan hasilnya dengan pengamatan tepat terhadap bagian dalamnya, kami menemukan bahwa penyerapan super-Bumi dapat membantu menjelaskan perbedaan yang telah lama ada antara model Matahari standar dan pengamatan," ujar Yildiz.

Perbedaan itu mencakup perubahan halus dalam struktur internal Matahari dan berkurangnya kelimpahan litium di permukaannya. Yildiz menyebut timnya tertarik mengetahui apakah masalah-masalah tersebut mungkin memiliki asal usul yang sama.

Bagaimana Planet Bisa Jatuh ke Matahari

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa satu atau lebih planet super-Bumi mungkin terbentuk di orbit Merkurius, planet terdekat dengan Matahari. Planet-planet itu kemudian bermigrasi melalui cakram protoplanet yang mengelilingi Matahari muda sebelum akhirnya menabrak bintang tersebut.

Yildiz mengaku timnya semula hanya menduga penelanan planet mungkin memengaruhi struktur Tata Surya. Mereka tidak menyangka perhitungan akan mengarah pada rentang massa super-Bumi yang begitu spesifik. "Itu adalah salah satu hasil penelitian yang paling menarik," katanya.

Meski demikian, studi ini tidak menutup kemungkinan adanya penjelasan lain selain tabrakan dahsyat dengan Matahari. Model yang dikembangkan tim tidak mengharuskan planet ditelan sepenuhnya oleh bintang, sehingga faktor lain masih bisa berkontribusi terhadap anomali yang teramati.

Langkah Selanjutnya

Gagasan ini masih bertumpu pada pemodelan komputer dan fitur Matahari yang belum sepenuhnya terjelaskan. Para peneliti berharap tanda struktural dan kimiawi yang diprediksi dari peristiwa penelanan planet bisa dideteksi secara langsung di dalam bintang kita.

"Makalah kami mempertanyakan apakah Matahari itu sendiri masih dapat menyimpan bukti yang dapat diamati bahwa penelanan semacam itu benar-benar terjadi, dan kami percaya itu mungkin," simpul Yildiz.

Jika jejak tersebut berhasil dikonfirmasi lewat pengamatan independen, temuan ini tidak hanya menjelaskan sejarah awal Tata Surya, tetapi juga memberi petunjuk mengapa komposisi Matahari berbeda dari bintang-bintang serupa di sistem lain.

Follow papuaonline.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks