JAYAPURA — Prakirawan cuaca BMKG, Nisa, menyebut potensi awan kumulonimbus pada Senin (19/10/2026) perlu diantisipasi penerbangan di tiga wilayah tersebut. Awan jenis ini dikenal sebagai pemicu turbulensi, hujan lebat, dan jarak pandang terbatas di jalur penerbangan.
"Untuk itu, selalu ikuti informasi terbaru dari bandara dan maskapai penerbangan," pesan Nisa.
Apa Itu Awan Kumulonimbus dan Mengapa Berbahaya bagi Pesawat
Awan kumulonimbus adalah awan vertikal raksasa yang tumbuh dari lapisan bawah atmosfer hingga belasan kilometer ke atas. Di dalamnya terkandung arus udara naik-turun kuat, es, dan air superdingin yang bisa membekukan badan pesawat.
Bagi penerbangan, awan ini menjadi salah satu ancaman paling serius. Pesawat yang masuk ke pusat awan berisiko mengalami turbulensi berat, sambaran petir, hingga icing pada mesin dan sayap.
Karena itu, BMKG meminta operator penerbangan mencermati pembaruan cuaca dari bandara sebelum keberangkatan. Rute di sekitar ujung Sumatra, Kalimantan, dan Papua menjadi wilayah yang paling perlu dipantau.
Siklon Tropis Campi di Utara Papua Nugini Picu Cuaca Ekstrem
Nisa menjelaskan dinamika cuaca hari itu turut dipengaruhi pergerakan Siklon Tropis Campi. Siklon terpantau berada di Samudra Pasifik bagian utara Papua Nugini dengan tekanan pusat 935 hektopaskal (hPa).
Kecepatan angin maksimum siklon mencapai 105 knot atau sekitar 194 kilometer per jam. Angka itu menempatkan Campi sebagai sistem tekanan rendah yang sangat kuat.
"Siklon ini bergerak ke arah barat laut dan memicu terbentuknya daerah konvergensi di Laut Filipina, Samudra Pasifik utara Papua, serta di sekitar sistem siklon," jelas Nisa.
Wilayah Konvergensi dan Dampaknya ke Cuaca Lokal
Daerah konvergensi yang terbentuk di Laut Filipina dan Samudra Pasifik utara Papua menjadi lokomotif pertumbuhan awan hujan. Massa udara lembap dari sekitar sistem siklon terdorong naik dan membentuk awan konvektif besar.
Di wilayah Papua sendiri, dampak tidak selalu merata. Bagian utara dan pesisir berpotensi lebih basah, sementara dataran tinggi bisa mengalami hujan sore hingga malam.
Penerbangan perintis ke kabupaten-kabupaten pegunungan Papua umumnya paling rentan terhadap perubahan cuaca mendadak. Pesawat kecil dengan ketinggian jelajah rendah lebih sulit menghindari sel awan konvektif.
Langkah Antisipasi bagi Penumpang dan Maskapai
Penumpang diminta memeriksa status penerbangan secara berkala, terutama untuk jadwal pagi dan sore. Maskapai biasanya memperbarui informasi keterlambatan atau pengalihan rute jika kondisi awan memburuk.
Operator bandara di wilayah terdampak juga perlu menyiapkan prosedur pengalihan penerbangan. Pemantauan radar cuaca di tiap bandara menjadi kunci untuk mendeteksi pertumbuhan sel kumulonimbus secara dini.
BMKG menyatakan pemantauan cuaca akan terus diperbarui seiring pergerakan Siklon Tropis Campi. Masyarakat dan pelaku jasa penerbangan diminta mengikuti kanal informasi resmi BMKG untuk perkembangan terbaru.