PAPUA — Manajemen Adhi Karya memutuskan untuk menjalankan sistem kerja tiga shift selama 24 jam penuh di lokasi proyek. Langkah ini diambil setelah perusahaan mengevaluasi progres pembangunan yang harus dikejar untuk memenuhi tenggat akhir tahun.
“Kami optimistis target penyelesaian bisa tercapai dengan pengaturan tenaga kerja dan logistik yang ketat,” ujar Direktur Operasional Adhi Karya dalam keterangan resmi, pekan lalu.
Dari total 4.300 pekerja yang dikerahkan, sekitar 60 persen merupakan tenaga kerja asal desa-desa sekitar lokasi proyek di Jawa Tengah. Hal ini memberikan suntikan ekonomi langsung bagi warga setempat melalui upah harian dan kontrak borongan.
Selain itu, Adhi Karya juga menggandeng 120 pemasok material lokal untuk memenuhi kebutuhan semen, pasir, dan baja ringan. Kepala Desa setempat menyebut proyek ini memutar roda usaha kecil menengah di wilayahnya.
Sekolah Rakyat Tahap II ini dirancang untuk menampung 1.200 siswa dari jenjang SD hingga SMP. Adhi Karya membangun 36 ruang kelas, dua laboratorium komputer, perpustakaan, serta asrama bagi siswa yang tinggal jauh dari sekolah.
Desain bangunan mengadopsi konsep ramah anak dengan area bermain terbuka dan jalur evakuasi gempa yang sesuai standar nasional. Proyek ini juga dilengkapi instalasi air bersih dari sumur bor dalam dan panel surya untuk efisiensi listrik.
Adhi Karya menargetkan progres fisik mencapai 85 persen pada akhir November 2025. Saat ini, pengerjaan struktur utama seperti fondasi dan rangka atap sudah rampung di tiga dari lima blok bangunan.
Setelah Sekolah Rakyat Tahap II beroperasi, pemerintah berencana mereplikasi model pembangunan ini ke lima provinsi lain. Adhi Karya menyatakan siap jika kembali dipercaya sebagai kontraktor utama.
Proyek ini menjadi salah satu yang terbesar dalam portofolio Adhi Karya di sektor pendidikan. Sebelumnya, perusahaan pelat merah itu juga menangani pembangunan sekolah darurat pascagempa di Cianjur dan Nusa Tenggara Barat.