PAPUA — John Herdman perlahan menggeser identitas taktik Timnas Indonesia. Meski masih setia pada formasi dasar 3-4-3 yang sama dengan pendahulunya, pendekatan yang ia tanamkan sangat berbeda. Pelatih asal Kanada itu menilai Skuad Garuda di era sebelumnya terlalu monoton dan hanya mengandalkan serangan balik.
“Gaya bermain tim nasional sebelumnya bagi saya pribadi terlihat terlalu pasif,” ujar Herdman di Stadion Madya, Jakarta, beberapa waktu lalu. Ia menegaskan pola permainan Timnas Indonesia sebelumnya hanya berkutat pada bertahan, menunggu momen transisi, lalu bertahan lagi.
“Sangat pasif. Polanya selalu bertahan, transisi, bertahan, lalu transisi lagi,” tegasnya. Kritik keras ini menjadi dasar perubahan total yang ia lakukan.
Perubahan paling kentara ada pada peran pemain belakang. Herdman meminta bek tengah dan bek sayap untuk tidak sekadar mengamankan area sendiri, tapi ikut menjadi motor serangan. Mereka dituntut berani membawa bola hingga menembus garis pertahanan lawan.
“Kami membutuhkan lebih banyak pemain yang memiliki visi bermain ‘plus satu’, melakukan overload,” jelas Herdman. Ia menekankan keberanian mengambil risiko dalam pressing dan penguasaan bola sebagai kunci untuk naik level.
“Serta bek tengah maupun bek sayap yang punya keberanian tinggi untuk maju memecah garis pertahanan lawan,” lanjutnya.
Filosofi baru ini juga mengubah cara Timnas Indonesia mencetak gol. Herdman tak lagi bergantung pada satu striker murni. Ia ingin gol lahir dari kolektivitas, di mana banyak pemain dari berbagai lini memiliki kontribusi ofensif. Ujian pertama skema ini akan dihadapi saat Timnas Indonesia menjamu Oman dan Mozambik di Gelora Bung Karno pada Juni 2026.
“Dengan cara ini, kami akan jauh lebih siap menghadapi siapa pun,” pungkas Herdman.