PAPUA — Laporan dari TechManiacs, yang dikutip Android Central, menyebutkan kenaikan harga akan menyasar lini Galaxy S, Galaxy Z Fold 7, Galaxy Z Flip 7, dan varian FE (Fan Edition). Beberapa model bahkan diprediksi mengalami lonjakan harga di atas €100, tergantung pada konfigurasi memori dan penyimpanan.
Ini bukan kali pertama Samsung menaikkan harga di tengah siklus produk. Saat Galaxy S26 series meluncur di AS, Samsung sudah menaikkan harga varian dasar dan Plus sebesar $100, sementara Galaxy S26 Ultra tetap di harga lama. Keputusan itu justru mendongkrak penjualan S26 Ultra karena dianggap lebih bernilai dibanding saudara-saudaranya.
Di AS, Samsung juga diam-diam menaikkan harga Galaxy Z Fold 7 varian 512GB. Kini, pola yang sama tampaknya akan diterapkan secara lebih agresif di Eropa.
Kenaikan harga ini tidak bisa dilepaskan dari melonjaknya biaya komponen dan memori. Samsung, seperti halnya produsen lain, hanya mampu menyerap kenaikan biaya produksi dalam batas tertentu. Sisanya, harus dibebankan ke konsumen.
“Biaya komponen dan memori jelas naik, dan perusahaan hanya bisa menyerap sebagian sebelum akhirnya menaikkan harga,” tulis Sanuj, kontributor Android Central, dalam analisisnya. Ia juga memprediksi Apple akan melakukan hal serupa pada lini iPhone terbaru tahun ini.
Bagi yang berencana membeli Galaxy flagship dalam waktu dekat, membeli sekarang mungkin pilihan paling rasional. Samsung belum mengonfirmasi apakah kenaikan harga ini akan merambah ke Asia, termasuk Indonesia. Namun, pola ekspansi harga dari Eropa ke kawasan lain sudah beberapa kali terjadi sebelumnya.
Jika tren ini berlanjut, konsumen Tanah Air yang biasa membeli perangkat Samsung dari distributor resmi atau importir bisa menghadapi lonjakan harga dalam beberapa bulan ke depan. Apalagi, dengan peluncuran Galaxy Z Fold 8 dan Galaxy Wide Fold yang dijadwalkan pada Juli 2026, tekanan harga di segmen ponsel lipat diperkirakan semakin besar.