JAYAPURA — OJK Papua menilai penguatan sinergi dengan pemangku kepentingan menjadi kunci utama untuk mengatasi tantangan rendahnya literasi keuangan masyarakat di daerah itu. Viktorinus menekankan bahwa semakin tinggi literasi masyarakat terhadap pasar modal, maka perlindungan bagi investor pun akan semakin kuat.
"Meski begitu investor tidak perlu khawatir untuk berinvestasi di pasar modal karena kami sebagai lembaga independen terus mengedepankan perlindungan konsumen dalam setiap aktivitas sektor jasa keuangan," ujar Viktorinus dalam pernyataannya di Jayapura, Jumat.
Secara nasional, perkembangan pasar modal Indonesia menunjukkan tren positif. Viktorinus mengungkapkan jumlah investor pasar modal telah mencapai lebih dari 26 juta per Mei 2026. Menariknya, lebih dari separuh dari total investor tersebut berasal dari generasi muda yang berusia di bawah 30 tahun.
"Kondisi ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal sebagai sarana investasi sekaligus sumber pembiayaan bagi dunia usaha," katanya.
Dari sisi emiten, Bursa Efek Indonesia mencatat pertumbuhan signifikan dengan jumlah perusahaan tercatat mencapai sekitar 956 emiten hingga 2025. Viktorinus menyebut data ini menandakan semakin banyak perusahaan yang memanfaatkan pasar modal sebagai alternatif pendanaan untuk mendukung ekspansi dan pengembangan usaha.
Sebelumnya, OJK Papua telah menghadiri kegiatan Workshop Go Public 2026 yang diselenggarakan oleh Bursa Efek Indonesia di Kota Jayapura, Papua, pada Kamis (4/6). Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya OJK untuk mendorong perusahaan-perusahaan potensial di Papua agar bisa melantai di bursa dan memperkuat ekosistem pasar modal di wilayah timur Indonesia.