Provinsi Termuda Papua Barat Daya Raih Runner-up Juara Umum Pesparawi Nasional XIV, Kumpulkan 8 Medali Emas

Penulis: Ragil  •  Senin, 29 Juni 2026 | 23:18:01 WIB
Kontingen Papua Barat Daya raih posisi runner-up dengan 8 medali emas di Pesparawi Nasional XIV.

MANOKWARI — Sebagai provinsi yang baru resmi berdiri beberapa tahun lalu, Papua Barat Daya langsung menunjukkan taringnya di kancah nasional. Kontingen daerah berjuluk "anak bungsu" itu berhasil menempati posisi kedua klasemen akhir Pesparawi Nasional XIV yang berlangsung sejak 18 hingga 28 Juni 2026 di Manokwari.

Ketua kontingen sekaligus perwakilan LPPD Papua Barat Daya, Pendeta Apono, menyebut capaian ini sebagai kebanggaan dan kemuliaan. "Sebagai provinsi termuda yang hadir dalam Pesparawi Nasional XIV, kita langsung berada pada posisi runner-up juara umum. Ini menjadi kebanggaan besar bagi Papua Barat Daya, tetapi semuanya terjadi karena kemurahan Tuhan," ujarnya dalam sambutan saat syukuran.

Peran "Orang Tua Angkat" Selama Dua Pekan

Di balik kesuksesan itu, ada cerita tentang solidaritas antarprovinsi. Selama berada di Manokwari, kontingen Papua Barat Daya mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Papua Barat, khususnya Dinas Kelautan dan Perikanan yang bertindak sebagai "orang tua angkat".

Pendeta Apono mengungkapkan perhatian yang diberikan sangat luar biasa, mulai dari penyambutan di pelabuhan, penyediaan transportasi, kebutuhan air bersih, hingga konsumsi. "Kami merasa menjadi bagian dari keluarga besar Papua Barat dengan orang tua kami yang ada di sini. Jamuan syukur sekaligus perpisahan ini adalah sesuatu yang tidak semua kontingen rasakan," katanya.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada paguyuban masyarakat Sorong Raya di Papua Barat, warga sekitar Asrama Mansinam, Jemaat Petrus Amban, serta para Liaison Officer (LO) yang mendampingi kontingen selama dua pekan.

Catatan Evaluasi: Satu Dirijen Tangani Dua Provinsi

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat, Prof. Orgenes Ijie, mengapresiasi capaian tersebut. "Papua Barat Daya adalah provinsi termuda atau anak bungsu, tetapi mampu menunjukkan kekuatan besar dengan menjadi juara kedua. Tugas kami sebagai orang tua angkat tidak sia-sia," ujarnya.

Namun, Prof. Ijie memberikan catatan penting untuk perbaikan ke depan. Ia menyoroti adanya satu dirijen yang menangani paduan suara dari dua provinsi berbeda secara bersamaan. "Satu dilatih secara langsung, sementara yang lain melalui pertemuan virtual atau Zoom. Ini tentu memengaruhi hasil pada beberapa kategori, termasuk vokal grup," ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh terulang jika Papua Barat Daya ingin meraih hasil lebih maksimal pada Pesparawi mendatang. "Kita harus belajar dari pengalaman ini agar pada pelaksanaan berikutnya Papua Barat Daya dapat tampil lebih baik lagi," tegasnya.

Dampak Spiritual: Kota Manokwari Terasa Lebih Damai

Prof. Ijie juga menilai penyelenggaraan Pesparawi Nasional XIV membawa dampak positif bagi Kota Manokwari sebagai tuan rumah. Selama 15 hari pelaksanaan, ia mengaku suasana kota terasa lebih aman dan tertib dibandingkan hari-hari biasa.

"Saya bahkan menyampaikan dalam rapat evaluasi panitia bahwa selama Pesparawi berlangsung, hampir tidak terdengar kasus jambret maupun begal. Kota ini terasa lebih damai karena kehadiran Tuhan melalui puji-pujian yang dinaikkan selama kegiatan berlangsung," ujarnya.

Prestasi ini sekaligus membuktikan bahwa provinsi termuda di Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat nasional, meskipun masih membutuhkan pembinaan yang lebih terstruktur ke depannya.

Reporter: Ragil
Sumber: orideknews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top