PAPUA — Pemerintah terus memperkuat pembangunan sektor pertanian di Tanah Papua dengan program cetak sawah. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari visi besar mewujudkan swasembada pangan di seluruh Indonesia tanpa perlu lagi pengangkutan pangan antarpulau.
“Mimpi kita adalah seluruh pulau di Indonesia swasembada pangan. Dengan begitu, tidak perlu lagi pengangkutan pangan antarpulau. Ini adalah solusi permanen untuk mengatasi persoalan inflasi,” ujar Amran dalam keterangannya.
Target 2.000 Hektare: 90 Hektare Sudah Selesai
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, Hermanto, mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada 90 hektare lahan sawah yang rampung dibangun. Tahun ini, pemerintah akan melanjutkan cetak sawah di Papua Pegunungan seluas 1.910 hektare, sehingga total menjadi 2.000 hektare pada 2026.
“Sekarang baru 90 hektare yang sudah selesai. Tahun ini kita lanjutkan cetak sawah di Papua Pegunungan seluas 1.910 hektare. Jadi 90 tambah 1.910, menjadi 2.000 hektare kita selesaikan tahun 2026 ini,” kata Hermanto.
Tak Ada Perampasan Hak Ulayat, Semua Lewat Musyawarah
Hermanto menegaskan bahwa seluruh pelaksanaan program dilakukan melalui pendekatan partisipatif dengan menghormati hak masyarakat adat. Ia memastikan tidak ada perampasan atau pengambilalihan hak ulayat.
“Tidak ada perampasan atau pengambilalihan hak ulayat. Semua yang kita kerjakan sudah disepakati bersama oleh tokoh adat, masyarakat adat, dan petani semua,” tegasnya.
Dukungan Penuh dari Tokoh Pemuda, Perempuan, dan Gereja
Program cetak sawah 300 hektare di Distrik Douw dan Wari, Kabupaten Tolikara, mendapat sambutan positif dari berbagai elemen masyarakat. Tokoh pemuda setempat, Yusak Fruaro, menilai pembukaan lahan sawah menjadi langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan pangan sekaligus membuka peluang usaha baru.
“Kami mendukung penuh program pembukaan sawah 300 hektare di Distrik Douw dan Wari karena manfaatnya sangat besar bagi masyarakat. Program ini akan membantu meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Yusak.
Tokoh perempuan Distrik Douw dan Wari, Anace Fruaro, juga menyatakan dukungannya. Menurutnya, peningkatan produksi pangan akan memberikan manfaat langsung bagi kehidupan keluarga.
“Kami para perempuan mendukung penuh program ini karena manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Jika produksi pangan meningkat maka kebutuhan keluarga dapat terpenuhi dengan lebih baik,” katanya.
Perwakilan gereja Distrik Douw dan Wari, Beth Fruaro, menambahkan bahwa pembangunan sektor pertanian menjadi instrumen penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat Papua.
“Gereja mendukung program sawah 300 hektare karena dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat ketahanan pangan,” ujarnya.
Dukungan Pemerintah: Benih, Pupuk, hingga Subsidi BBM
Selain pembangunan lahan, pemerintah menyiapkan dukungan berupa benih padi unggul, pupuk dolomit, alat dan mesin pertanian, hingga subsidi bahan bakar minyak bagi petani. Hermanto berharap keberadaan sawah baru bisa menjadi aset jangka panjang bagi masyarakat.
“Dengan punya sawah, ini bisa memperbaiki kehidupan kita saat ini maupun ke depan dan memberikan masa depan kepada anak cucu kita semua,” katanya.
Sementara itu, pelajar dan mahasiswa asal Douw dan Wari menyatakan kesiapan mengawal pelaksanaan program tersebut. Mereka berharap pembangunan pertanian menjadi pintu masuk peningkatan kesejahteraan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi generasi muda Papua.