PAPUA — Demo yang dimulai pukul 15.00 WIB ini dipimpin Koordinator Lapangan Diko Okta Siswandra. Ia menyampaikan tuntutan aksi kali ini hampir sama dengan sebelumnya, termasuk mendesak Forkopimda segera menutup aktivitas penambangan tanpa izin (PETI) serta menangani mitigasi pascabencana ekologi di akhir 2025.
Tujuh Tuntutan yang Disuarakan Massa
Diko merinci tujuh poin yang diajukan mahasiswa. Selain transparansi APBD dan pemberantasan PETI, mereka juga menyoroti kebijakan pemindahan PKL di kawasan GOR Haji Agus Salim.
“Kami juga menuntut perbaikan infrastruktur pendidikan dan pemerataan distribusi guru PNS di wilayah 3T, serta pemberian beasiswa bagi keluarga kurang mampu,” ujar Diko saat diwawancarai Genta Andalas.
Massa aksi juga mendesak pembatalan RUU Polri yang dinilai mengancam ruang sipil dan mendorong percepatan pengesahan RUU Perampasan Aset. Di sektor ekonomi, mereka meminta penurunan harga bahan pokok dan kejelasan perbedaan harga BBM yang mencapai sekitar Rp17.000 dibandingkan daerah lain.
Gubernur dan Wagub Tak Pernah Hadir
Ketua HMI Padang, Michael Firmansyah, mengungkapkan kekecewaan karena pemimpin daerah tak pernah menemui massa. “Kami sudah beberapa kali aksi, namun gubernur maupun wakil gubernur tidak pernah hadir,” tegasnya.
Michael menegaskan demonstrasi akan terus dilanjutkan sampai ada respons. “Substansi aspirasi kami tidak pernah sampai. Aksi lanjutan akan terus dilakukan agar tuntutan ini didengar,” katanya.
Ketua BEM SI Sumbar, K. Harahap, menilai ketidakhadiran itu bentuk ketidaksiapan pemerintah menghadapi aspirasi publik. Ia membandingkan alasan yang diberikan pada aksi jilid I—gubernur di luar kota, wagub di Agam—dengan aksi jilid II yang hanya menyebut gubernur rapat tanpa kejelasan lokasi.
“Mereka selalu hadir dalam forum resmi di ruangan. Tapi ketika aksi kejutan seperti ini, mereka tidak berani memberi jawaban langsung,” tambah K. Harahap.
Mahasiswa Siap Menunggu Hingga Malam
Sementara itu, Ketua GMNI Padang, Aldhy Darza, menyampaikan harapan agar gubernur dan wakil gubernur bersedia turun. “Kami akan menunggu hingga malam karena ingin bertemu langsung dengan pemimpin yang kami pilih,” tutupnya.