PAPUA — Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) menilai langkah pemerintah tersebut menjadi angin segar bagi industri yang selama ini tertekan oleh tingginya harga gas dunia. Sebelumnya, harga LNG untuk industri berada di kisaran 20-23 dolar AS per MMBTU.
Potensi Penurunan Biaya Hingga 40 Persen dan Dampaknya pada Operasional
Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto menyebut, dengan penyesuaian ini, rata-rata biaya gas untuk industri keramik diperkirakan turun menjadi 9,5-10 dolar AS per MMBTU. Angka itu setara dengan 38-40 persen dari total biaya produksi.
"Kebijakan ini mampu mengurangi tekanan biaya energi yang selama ini menjadi salah satu tantangan terbesar industri keramik nasional," ujar Edy dalam keterangan resmi.
Menurut Edy, penurunan biaya energi menjadi faktor krusial untuk menjaga keberlanjutan operasional pabrik. Ia menambahkan, langkah ini juga menekan risiko pengurangan tenaga kerja atau pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor padat karya tersebut.
ASAKI Dorong Pemerintah Naikkan Porsi HGBT Jadi 80 Persen
Meski menyambut baik kebijakan ini, ASAKI tetap mendorong pemerintah meningkatkan porsi alokasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) menjadi 70-80 persen. Kebijakan serupa pernah diterapkan sebelumnya dan dinilai efektif memperkuat daya saing industri.
"Kami berharap langkah ini bisa memperkuat resiliensi industri nasional di tengah ketatnya persaingan regional dan derasnya produk impor, terutama dari China dan India," kata Edy.
Ia menekankan, kepastian pasokan gas dan iklim usaha yang lebih kompetitif akan memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional.
Rencana Ekspansi Industri Keramik 2025-2029: Tambah Kapasitas 80 Juta Meter Persegi
Dengan membaiknya biaya energi, industri keramik nasional optimistis merealisasikan rencana ekspansi pada periode 2025-2029. Rencana tersebut mencakup penambahan kapasitas produksi sekitar 80 juta meter persegi.
Investasi yang disiapkan mencapai Rp12 triliun. Proyek ini diyakini mampu menyerap sekitar 6.000 tenaga kerja baru.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya mengonfirmasi keputusan penurunan harga LNG tersebut. "Diturunkan menjadi 13 dolar AS per MMBTU. Jadi dari 20 sampai 23 dolar AS per MMBTU, sekarang diturunkan menjadi 13 dolar AS per MMBTU," ungkapnya saat konferensi pers.