JAYAPURA — Bagi Helena Asinggau, menyandang status sebagai kader posyandu bukan sekadar pekerjaan sukarela. Perempuan yang tinggal di permukiman Argapura Bawah, Kota Jayapura, ini menganggapnya sebagai panggilan jiwa dan tanggung jawab moral untuk mendampingi warga asli Papua, terutama dalam menjaga tumbuh kembang anak-anak di lingkungannya.
"Menjadi seorang kader merupakan panggilan jiwa," kata Helena kepada Antara di Jayapura, akhir Juni lalu.
Helena mengakui, sebagian warga di kampungnya masih menganggap stunting sebagai istilah asing. Mereka belum sepenuhnya memahami dampak buruk kondisi itu terhadap pertumbuhan anak. Ia pun turun langsung memberikan edukasi dari rumah ke rumah, terutama kepada para ibu muda.
Helena merupakan satu dari puluhan kader yang kini dilibatkan dalam program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING). Program ini merupakan inisiatif Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang menggandeng tenaga kesehatan, pemerintah daerah, pengusaha, dan masyarakat.
Di Papua, program GENTING berjalan di Kota Jayapura dan delapan kabupaten lainnya. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Papua, Beeri Wopari, menyatakan pemerintah menargetkan penurunan angka stunting dari 23 persen menjadi 18 persen pada 2026 melalui intervensi terpadu lintas sektor.
Target itu tidak mudah. Kondisi geografis Papua yang terjal dan luas membuat akses layanan kesehatan di pedalaman dan pesisir membutuhkan waktu dan biaya besar. Keterbatasan jumlah tenaga kesehatan dan infrastruktur juga menjadi hambatan.
Meski penuh tantangan, semangat para kader tidak surut. Di Posyandu Meranti, tempat Helena bertugas, kehadiran program GENTING membawa perubahan nyata. Posyandu itu kini tidak hanya menyediakan bubur kacang hijau, telur, dan makanan rebusan, tetapi juga makanan lengkap bergizi.
"Dulu ada sekitar 50 anak berisiko stunting, sekarang tinggal 30 setelah dapat bimbingan dari kader," ungkap Helena.
Ia berharap program GENTING tidak hanya berjalan dari pemerintah, tetapi juga melibatkan pihak lain. "Kami sangat berharap program ini terus berlaku," ujarnya.
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri.
"Program GENTING harus terus diperluas agar semakin banyak anak dan keluarga berisiko stunting mendapatkan pendampingan dan intervensi," kata Isyana.
Di Papua, Penjabat Sekretaris Daerah Papua Christian Sohilait menargetkan 1.600 orang tua asuh pada 2026. Orang tua asuh diharapkan membantu keluarga dengan anak berisiko stunting dalam pemenuhan gizi, pendampingan kesehatan, dan dukungan sosial lainnya.
"Kami tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dengan semua pihak sangat dibutuhkan," tegas Christian.
Kepala Perwakilan BKKBN Papua, Sarles Brabar, menilai sinergi dengan sektor swasta dan perbankan menjadi kekuatan utama memperluas cakupan program. Upaya ini telah dirasakan langsung oleh warga, seperti Anita Masoka.
Anita mengaku anaknya yang semula pemilih makanan kini jadi lebih lahap makan setelah mengikuti program GENTING. "Setelah dapat makanan tambahan, berat badan anak saya naik dan dia jadi lebih sehat," kata ibu empat anak itu.
Menurut Anita, pendampingan kader dan edukasi stunting membuat para ibu lebih paham pentingnya pola makan bergizi dan kebersihan anak. "Kami jadi tahu cara kasih makan anak dengan benar," pungkasnya.