MIMIKA — Biaya angkutan umum pergi-pulang sebesar Rp 40.000 menjadi beban utama warga Kampung Mware yang hendak menjual hasil bumi ke pasar. Seorang perwakilan Dewan Gereja, Yerus Manaharepi, meminta pemerintah menyediakan bus sekolah dan bus masyarakat untuk memudahkan mobilitas sehari-hari.
“Tolong kalau bisa ada kendaraan untuk kami mau pergi jualan itu kami bayar angkot pergi pulang empat puluh ribu,” ungkap Yerus di hadapan anggota DPRK setempat.
Persoalan sosial yang lebih akut juga dikeluhkan. Yerus menyoroti anak-anak muda di kampung yang menghabiskan malam dengan bermain gaple bermuatan judi dan mengonsumsi minuman keras lokal—disebut “milo”—yang diolah secara tidak higienis di dalam hutan.
“Siapa yang mau hentikan anak-anak yang main gaple? Ini mempengaruhi pendidikan, budaya, dan gereja! Tiap malam mereka main uang. Kalau tidak dikasih, orang tua diancam. Karena judi ini, anak-anak lupa sekolah, besok mau sembahyang pun tidak peduli. Saya capek, Ibu,” kata Yerus.
Menanggapi hal itu, Dessy Putrika dari Partai Demokrat berjanji meneruskan laporan ke aparat keamanan. “Nanti kami akan sampaikan ke Pak Kapolsek tolong diperhatikan orang-orang yang main judi ini. Ini sudah merusak adik-adik kita sampai memaksa orang tua minta uang. Biar nanti aparat keamanan yang bertindak,” tegasnya.
Dessy mengaku kerap merasa takut singgah ke kampung jika melihat warga yang sudah sempoyongan akibat alkohol di pinggir jalan. “Bagaimana pemerintah mau datang memperhatikan kita, kalau kita sendiri bikin takut orang yang mau datang? Minimal jangan mabuk dulu,” katanya.
Ia juga memberikan edukasi politik dan anggaran kepada panitia pembangunan Gereja Katolik Santa Teresia Kasih Muare. Dessy mengingatkan agar Rencana Anggaran Biaya (RAB) disusun matang dan prioritas utama adalah gedung utama, bukan pagar atau timbunan.
“Membangun gereja itu jangan kita berharap terus dari pemerintah daerah. Yang paling utama gedung dulu, tidak apa-apa kecil dan sederhana, yang penting bisa menampung jemaat untuk beribadah dengan nyaman,” jelasnya.
Menutup pertemuan, Dessy mengajak warga menjaga aset pemerintah yang sudah dibangun, terutama Pasar Mapurujaya yang ditargetkan segera beroperasi. Ia berharap pasar itu diramaikan oleh mama-mama pedagang asli Papua, bukan justru ditinggalkan atau disalahgunakan.
Selain itu, warga juga menitipkan harapan agar usulan pemekaran Kampung Muari terus dikawal. Pertemuan di Kampung Mware hari itu berakhir dengan jabat tangan yang hangat.