Wisatawan yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Papua biasanya langsung bertanya soal papeda. Bukan tanpa alasan. Makanan pokok dari sagu ini punya tekstur lengket dan kenyal yang tidak ditemukan di daerah lain. Di Jayapura, papeda disajikan hampir di setiap warung makan, terutama saat pagi hari. Rasanya netral, cocok dipadukan dengan kuah kuning berbasis kunyit dan ikan tongkol segar.
Kuliner Papua bukan sekadar papeda. Ada beberapa hidangan lain yang sama-sama mencuri perhatian, dari daging babi asap hingga ulat sagu yang cukup ekstrem. Berikut lima makanan yang paling sering dicari—baik oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.
Papeda dibuat dari sari pati sagu yang diolah hingga mengental. Masyarakat pesisir seperti di Sentani dan Teluk Youtefa mengonsumsinya sebagai pengganti nasi. Ikan kuah kuning menjadi pendamping utama—biasanya menggunakan ikan kakap atau tuna, dibumbui kunyit, jahe, dan daun jeruk.
Cara makannya tradisional: papeda digulung dengan sumpit bambu, lalu dicelup ke kuah kuning. Jangan mengunyah terlalu cepat, karena teksturnya seperti lem. Satu porsi biasanya cukup mengenyangkan. Tips: cari warung yang menyajikan ikan segar hasil tangkapan nelayan setempat, bukan ikan beku.
Sagu bakar adalah sagu yang dipanggang di atas bara api hingga kering dan garing. Di pasar-pasar tradisional seperti Pasar Youtefa atau Pasar Hamadi, sagu bakar sering dijual sebagai bekal perjalanan. Ada juga versi lempeng yang dicetak pipih dan diisi dengan parutan kelapa.
Teksturnya keras, tapi kalau dicelup ke kuah ikan atau teh hangat akan melembek. Rasanya gurih, sedikit smoky. Para wisatawan yang melakukan trekking ke Lembah Baliem biasanya membeli sagu bakar sebagai sumber karbohidrat praktis. Harganya relatif murah, tidak perlu khawatir soal kantong.
Ikan bakar di Papua punya ciri khas tersendiri: bumbu kuning kental yang meresap hingga ke tulang. Berbeda dengan ikan bakar di daerah lain yang cenderung manis atau pedas, bumbu Manokwari lebih dominan kunyit dan asam jawa. Ikan yang digunakan biasanya ikan ekor kuning atau kerapu.
Proses pembakarannya memakan waktu cukup lama—biasanya di atas bara kayu bakar supaya aroma asapnya kuat. Di sepanjang pantai Pasir Hitam (dekat Pelabuhan Entrop) banyak warung lesehan yang menyajikan ikan bakar langsung dari panggangan. Waktu terbaik mencicipinya adalah sore hari, sambil menikmati sunset.
Di Lembah Baliem, suku Dani memelihara babi secara turun-temurun. Babi panggang menjadi hidangan upacara adat, tapi kini bisa dinikmati wisatawan di festival budaya atau rumah makan tertentu. Dagingnya dipanggang di atas batu panas bersama ubi jalar dan sayuran.
Proses memasak memakan waktu berjam-jam. Hasilnya: daging empuk, lemak meleleh, dan aroma asap batu sangat khas. Bagi yang tidak terbiasa, daging babi Papua cenderung lebih berlemak. Tapi itulah ciri otentiknya. Saat mengunjungi Wamena, cobalah mencari penginapan yang menyediakan menu babi panggang dengan porsi kecil untuk mencicipi.
Ulat sagu berasal dari batang pohon sagu yang sudah lapuk. Di mata wisatawan, ini makanan paling ekstrem. Tapi bagi warga Papua, ulat sagu adalah sumber protein yang praktis—bisa dimakan mentah, digoreng, atau ditumis. Rasanya gurih, mirip santan, dengan tekstur creamy di dalam.
Kalau penasaran, cari penjual di acara festival pesisir atau pasar tradisional. Biasanya ulat sagu dijual hidup-hidup dalam wadah daun. Pastikan Anda membeli dari sumber yang bersih. Untuk pemula, disarankan mencoba versi goreng tepung agar lebih familiar di lidah.
Apakah papeda hanya ada di Papua? Iya, papeda adalah makanan khas Papua dan Maluku. Di luar daerah itu sulit ditemukan yang otentik, kecuali di beberapa restoran daerah tertentu di Jawa.
Berapa harga rata-rata seporsi papeda lengkap? Harga bervariasi tergantung lokasi dan jenis ikan. Lebih baik cek langsung ke warung atau tanya warga sekitar saat tiba di kota tujuan.
Apa pengganti papeda bagi yang tidak suka? Sebagian wisatawan memilih nasi atau ubi jalar bakar sebagai pendamping ikan kuah kuning. Keduanya juga mudah ditemukan di Papua.
Kapan waktu terbaik menikmati kuliner Papua? Pagi hari untuk papeda segar, sore hari untuk ikan bakar pinggir pantai. Hindari musim hujan jika ingin kulineran di warung lesehan terbuka.
Apakah semua makanan Papua pedas? Tidak. Sebagian besar hidangan Papua cenderung gurih dan sedikit asam. Pedas biasanya ditambahkan lewat sambal acak atau cabai rawit hijau yang disediakan terpisah.
Kuliner Papua menawarkan pengalaman yang tidak bisa disamakan dengan daerah mana pun di Indonesia. Dari papeda yang lengket hingga ulat sagu yang ekstrem, setiap hidangan menyimpan cerita dan cara hidup masyarakat setempat. Ketika berkunjung ke Papua, luangkan waktu untuk duduk di warung lokal, berbincang dengan penjual, dan mencicipi langsung—karena rasa otentik tidak bisa didapatkan dari buku resep atau video kuliner semata.