JAYAPURA — Sebanyak 20 penyandang disabilitas mengikuti pelatihan pembuatan kaki dan tangan palsu yang digelar Departemen Pelayanan Kasih dan Keadilan Sinode GKI di Tanah Papua. Kegiatan berlangsung di kantor Sinode GKI, Argapura, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura.
Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis. Para peserta juga disiapkan menjadi tenaga tetap yang akan mengelola bengkel pembuatan alat bantu milik GKI setelah pelatihan selesai.
Pelayanan Terbuka untuk Semua Agama
Wakil Ketua I Badan Pekerja Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Hiskia Rollo, menegaskan bahwa program ini bersifat inklusif. “Pelayanan ini adalah pelayanan kasih yang tidak terbatas. Bukan hanya untuk warga GKI, tetapi juga bagi masyarakat dari gereja lain maupun saudara-saudara yang membutuhkan kaki palsu, tangan palsu, dan pelayanan kesehatan,” katanya.
Pelatihan ini juga merupakan rangkaian peringatan Hari Doa Syukur Disabilitas GKI yang pertama kali akan diperingati pada 29 Juli 2026.
Instruktur dari Solo, Target Bengkel Berdiri Tahun Ini
GKI menghadirkan instruktur bernama Kuncoro dari Solo yang sudah berpengalaman dalam pembuatan alat bantu disabilitas. Konsep pelatihan menggunakan metode training of trainers (TOT) agar peserta bisa langsung memproduksi dan melatih orang lain.
“Setelah pelatihan ini kami akan membentuk bengkel pembuatan kaki dan tangan palsu di bawah Departemen Pelayanan Kasih dan Keadilan Sinode GKI di Tanah Papua. Siapa pun yang membutuhkan datang dan kami akan melayani sesuai kemampuan kami,” ujar Pdt. Hiskia Rollo.
Harga Kaki Palsu Capai Rp21 Juta, Warga Papua Selama ini Bergantung ke Luar Daerah
Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Fisik Indonesia (PPDFI) Provinsi Papua, Roby Nyong, menyebut kebutuhan kaki palsu di Papua terus meningkat. Penyebab amputasi tak hanya kondisi bawaan lahir, tapi juga kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, dan diabetes.
“Pada periode 2021–2023, harga satu unit kaki palsu berkisar antara Rp17 juta hingga Rp21 juta, belum termasuk biaya pengiriman. Karena itu muncul pertanyaan, mengapa kita tidak membuatnya sendiri di Papua,” kata Roby Nyong yang ikut dalam pelatihan.
Selama ini, bantuan kaki palsu didatangkan dari luar Papua. Tim hanya datang untuk mengukur, lalu proses produksi dilakukan di luar daerah sebelum diserahkan kepada penerima. Model tersebut dinilai tidak menciptakan kemandirian bagi disabilitas di Papua.
Bengkel di Jayapura: Solusi Hemat Waktu dan Biaya
Sekretaris Pelayanan Departemen Pelayanan Kasih dan Keadilan Sinode GKI, Pdt. Leonora Balubun, mengatakan keberadaan bengkel di Jayapura akan memudahkan disabilitas mendapatkan alat bantu tanpa harus ke Sorong atau kota lain.
“Kami ingin membangun bengkel pembuatan kaki dan tangan palsu di Jayapura sehingga masyarakat Papua, khususnya disabilitas yang membutuhkan alat bantu, bisa dilayani di sini. Ini akan mempersingkat waktu dan biaya,” kata Pdt. Leonora Balubun.
Program ini juga diharapkan membuka lapangan kerja bagi disabilitas. Peserta yang terlatih akan terlibat langsung dalam produksi alat bantu sekaligus pelayanan kemanusiaan GKI.
“Pelayanan ini bukan hanya untuk orang Kristen. Siapapun yang membutuhkan kaki atau tangan palsu dapat mendaftar dan memperoleh pelayanan,” ucapnya.