PAPUA — Gerak harga minyak goreng di Papua cenderung datar dalam sepekan terakhir, namun inflasi bulanan tetap terjadi. Data PIHPS yang dipantau melalui dashboard resmi Bank Indonesia pada pukul 07.44 WIB mencatat harga minyak goreng kemasan bermerk 2 bertahan di Rp26,8 ribu per kg, sama dengan posisi sepekan lalu. Namun, jika dibandingkan dengan 30 hari sebelumnya, harga komoditas ini sudah naik 1,9 persen dari Rp26,3 ribu.
Kenaikan lebih dalam terlihat dalam rentang tiga bulan terakhir. Harga minyak goreng kemasan bermerk 2 di pasar tradisional Papua telah menguat 4,69 persen dari level Rp25,6 ribu pada akhir April 2026. Meski begitu, tren harga sepanjang satu tahun terakhir (Agustus 2025-Juli 2026) masih relatif bergerak datar tanpa gejolak signifikan.
Berbeda dengan minyak goreng, harga cabai di Papua justru menunjukkan tren penurunan cukup dalam pada periode yang sama. Cabai merah keriting menjadi komoditas dengan koreksi terbesar, turun 30,92 persen secara bulanan menjadi Rp66,25 ribu per kg. Cabai rawit merah juga melemah 27,75 persen ke posisi Rp85,25 ribu per kg.
Penurunan juga terjadi pada cabai merah besar yang tercatat di harga Rp79,75 ribu per kg atau turun 17,36 persen dibanding bulan lalu. Bawang merah ukuran sedang ikut terkoreksi 15,03 persen ke level Rp70,65 ribu per kg. Kondisi ini menjadi kabar baik bagi konsumen di tengah tekanan harga bahan pokok lainnya yang masih menunjukkan kenaikan.
Di sisi lain, sejumlah komoditas utama justru mengalami kenaikan harga. Daging sapi kualitas 1 tercatat di Rp161,5 ribu per kg atau naik 0,37 persen, sementara daging sapi kualitas 2 berada di Rp155,9 ribu dengan kenaikan 0,58 persen. Harga daging ayam ras segar justru turun tipis 2,29 persen menjadi Rp51,15 ribu per kg.
Untuk beras, seluruh kualitas mengalami kenaikan kecil dalam sebulan terakhir. Beras kualitas medium I naik 1,05 persen ke Rp19,25 ribu per kg, sedangkan beras kualitas super I tercatat di Rp20,95 ribu per kg. Gula pasir kualitas premium juga naik 0,37 persen menjadi Rp26,85 ribu per kg.
Dari pantauan PIHPS terhadap sembilan bahan pokok di pasar tradisional Papua per 31 Juli 2026, tercatat 12 komoditas mengalami penurunan harga dan 18 komoditas lainnya naik. Data ini menjadi indikator bahwa tekanan inflasi di Papua masih bersifat selektif, tidak merata di semua jenis kebutuhan pokok.
Kenaikan harga minyak goreng yang relatif stabil di tengah gejolak harga pangan lain menunjukkan pasokan komoditas ini masih terkendali. Pemerintah daerah diharapkan terus memantau distribusi guna mencegah lonjakan harga menjelang bulan-bulan berikutnya, terutama jika terjadi gangguan pasokan dari luar Papua.