MANOKWARI — Rangkaian peringatan 666 tahun masuknya Islam di Tanah Papua akan memuncak di Kabupaten Fakfak pada 8 Agustus 2026. Sebelum acara puncak, serangkaian kegiatan juga dijadwalkan berlangsung di Manokwari pada 5 Agustus 2026.
Ketua MUI Papua Barat, Dr. Ir. H. Mulyadi Djaya, menegaskan bahwa perayaan ini adalah milik seluruh masyarakat Papua, bukan hanya umat Islam. Menurutnya, peristiwa ini menjadi pengingat bagaimana agama-agama hadir di tanah Papua dan masyarakat mampu hidup berdampingan secara damai.
“Ini bukan hanya milik umat Islam. Peringatan ini adalah sejarah masyarakat Papua. Kita ingin mengingat kembali bagaimana agama-agama hadir di Tanah Papua dan bagaimana masyarakat mampu hidup berdampingan dengan damai hingga saat ini,” kata Mulyadi dalam rilis yang diterima media ini, Senin (03/07/2026).
Mulyadi menjelaskan, nilai sejarah ini harus terus disampaikan agar semangat persaudaraan yang diwariskan para pendahulu tidak luntur oleh perkembangan zaman. MUI Papua Barat menjadikan peringatan tahun ini sebagai momentum memperkuat persatuan dan kerukunan antarumat beragama.
Filosofi Satu Tungku Tiga Batu yang menjadi simbol kehidupan masyarakat Fakfak disebut sebagai cerminan nyata keharmonisan warga Papua. Filosofi ini mengajarkan bahwa perbedaan agama bukan penghalang untuk hidup berdampingan, melainkan kekuatan dalam membangun daerah.
“Kita ingin semangat Satu Tungku Tiga Batu terus hidup di tengah masyarakat. Nilai ini harus dijaga karena telah menjadi identitas masyarakat Papua yang saling menghormati, saling menjaga, dan saling membantu tanpa melihat perbedaan agama maupun suku,” ujarnya.
Panitia telah menyiapkan berbagai kegiatan untuk memeriahkan peringatan tahun ini. Selain kegiatan keagamaan, unsur budaya juga diangkat sebagai bagian dari syiar Islam yang berkembang di Tanah Papua sejak ratusan tahun silam.
Rangkaian kegiatan meliputi lomba seni budaya Islam, penampilan qari dan qariah, hadrah, kasidah, tabligh akbar, ceramah keagamaan, serta peluncuran buku yang mengangkat sejarah masuknya Islam di Tanah Papua. Panitia berharap kegiatan tersebut mampu memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai perjalanan sejarah Islam di wilayah paling timur Indonesia.
“Kegiatan ini bukan sekadar seremonial. Kami ingin masyarakat memahami bahwa penyebaran Islam di Tanah Papua berlangsung secara damai dengan menghargai adat, budaya, dan tradisi masyarakat setempat,” kata Mulyadi.
Selain dihadiri Gubernur Papua Barat, panitia juga mengundang Gubernur Papua, Wakil Gubernur Papua Barat, para ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, pimpinan organisasi Islam, hingga perwakilan MUI Pusat untuk bersama-sama mengikuti puncak peringatan tersebut. MUI di kabupaten dan kota lainnya akan menyesuaikan pelaksanaan kegiatan dengan kondisi daerah masing-masing.
Persiapan penyelenggaraan telah dilakukan hampir satu bulan. Panitia terus mematangkan berbagai aspek mulai dari pelaksanaan acara, kesiapan peserta, hingga koordinasi dengan pemerintah daerah dan unsur keamanan agar seluruh kegiatan berlangsung aman, tertib, dan sukses.
Mulyadi berharap peringatan ini mampu memperkokoh hubungan antarumat beragama sehingga tercipta kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan penuh toleransi. “Kalau kerukunan tetap terjaga, maka pembangunan juga akan berjalan dengan baik. Stabilitas daerah lahir dari masyarakat yang hidup rukun dan saling menghargai,” tutupnya.