Pasokan BBM ke Waropen Hanya 2 Persen, DPR Papua Desak Pertamina Aktifkan Kembali SPBU Urei

Penulis: Yasir  •  Senin, 03 Agustus 2026 | 19:49:31 WIB
Pasokan BBM ke Kabupaten Waropen tercatat hanya dua persen dari kebutuhan masyarakat.

JAYAPURA — Sekretaris Komisi IV DPR Papua, Jefry Hendry Bisai, mendesak Pertamina Patra Niaga mengambil langkah strategis untuk memperbaiki distribusi BBM di Kabupaten Waropen. Desakan ini mengemuka dalam rapat kerja yang membahas ketimpangan pasokan energi di wilayah pesisir Papua, baru-baru ini.

Bisai menyoroti angka pasokan yang hanya menyentuh 2 persen dari kebutuhan masyarakat. Ia menilai kondisi ini krusial karena rantai distribusi selama ini masih bergantung pada pasokan dari wilayah Kepulauan Yapen.

“Saya melihat persentase suplai BBM ke Kabupaten Waropen hanya sekitar 2 persen. Ini tentu sangat minim, apalagi distribusinya masih bergantung dari wilayah Kepulauan Yapen,” ujar Bisai dalam rapat tersebut.

SPBU Urei Jadi Kunci Pemerataan Akses BBM

Untuk menjawab persoalan ini, politisi tersebut mendesak agar Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Distrik Urei segera diaktifkan kembali. Keberadaan SPBU itu dinilai vital untuk memangkas ketergantungan logistik dari Yapen dan memperluas jangkauan layanan.

“Kami minta SPBU di Distrik Urei segera diaktifkan. Saat ini Waropen memang sudah memiliki SPBU yang beroperasi, tetapi masih belum mampu menjangkau seluruh wilayah secara optimal,” katanya.

Nelayan di Perbatasan Waropen-Nabire Paling Terdampak

Sorotan tajam lainnya tertuju pada Kampung Wapoga yang berada di ujung Kabupaten Waropen, tepat di perbatasan dengan Kabupaten Nabire. Distribusi BBM ke wilayah terpencil itu sangat terbatas, bahkan pasokan hanya masuk setiap tiga hingga empat bulan sekali.

Padahal, mayoritas masyarakat di Wapoga menggantungkan hidup sebagai nelayan. Ketersediaan solar menjadi penentu utama aktivitas melaut mereka. Keterlambatan pasokan berarti hilangnya hari kerja dan pendapatan bagi warga.

“Di Wapoga, BBM bisa masuk tiga sampai empat bulan sekali. Sementara masyarakat di sana adalah nelayan yang sangat membutuhkan solar untuk bekerja. Ini harus menjadi perhatian serius,” tegas Bisai.

Jefri menambahkan, persoalan ini bukan hanya soal kelangkaan energi, melainkan juga menyangkut keadilan ekonomi bagi masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Ia berharap Pertamina Patra Niaga tidak hanya berfokus pada daerah dengan konsumsi tinggi, tetapi juga memastikan wilayah kantong-kantong produksi pesisir mendapatkan hak yang sama atas akses energi.

Reporter: Yasir
Sumber: teraspapua.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top