IHSG Melemah ke 6.636, TINS dan IMPC Jadi Incaran, Cek Level Buy dan Stop Loss

Penulis: Fajar  •  Senin, 07 September 2026 | 14:36:01 WIB
IHSG ditutup melemah 0,47% ke posisi 6.636,48 di tengah aksi jual investor asing yang mencapai Rp317,07 miliar.

PAPUA — Tekanan jual masih mendominasi pasar saham domestik pada akhir pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,47% atau 31,42 poin ke posisi 6.636,48, dengan rentang pergerakan harian di kisaran 6.633–6.704. Pelemahan ini terjadi di tengah aksi jual investor asing yang tercatat mencapai Rp317,07 miliar di pasar reguler.

Secara sektoral, delapan dari sebelas indeks sektoral ditutup di zona merah. Sektor transportasi dan logistik menjadi yang paling tertekan dengan koreksi sekitar 1,09%, sementara sektor energi menjadi penopang utama dengan penguatan tipis 0,22%.

Momentum TINS dan IMPC di Tengah Tekanan Pasar

Di tengah pelemahan indeks, beberapa saham justru menunjukkan pergerakan berlawanan arah. TINS menonjol setelah melonjak 8,07%, diikuti IMPC yang menguat 6,76%. Kedua saham ini juga mencatatkan posisi teratas dalam net accumulation, dengan nilai masing-masing sekitar Rp101,33 miliar dan Rp15,08 miliar.

Khusus TINS, aliran dana asing tercatat sangat deras dengan inflow mencapai Rp158,8 miliar pada perdagangan Jumat. Namun, kenaikan tajam ini memunculkan kekhawatiran potensi profit taking pada sesi berikutnya.

Untuk perdagangan Senin, area pembelian TINS direkomendasikan di rentang Rp4.390–Rp4.420, dengan target harga Rp4.500–Rp4.570. Batas stop loss ditempatkan di level Rp4.120. Investor perlu mewaspadai jika harga pembukaan berada jauh di atas area buy, karena rasio risiko terhadap potensi keuntungan akan berubah dari skenario awal.

Sementara itu, IMPC memiliki area buy di Rp1.480–Rp1.495 dengan target Rp1.500–Rp1.550. Stop loss ditetapkan pada level Rp1.385. Momentum harga menjadi faktor utama yang diperhitungkan, namun volume transaksi dan kemampuan saham bertahan di area support akan menentukan kelanjutan pergerakan.

SOCI, MTEL, dan OMED: Level Teknis yang Perlu Disiplin

SOCI masuk dalam daftar trading idea dengan area pembelian Rp630–Rp640. Target harga berada di Rp650–Rp665, sementara stop loss dipasang di Rp595. Rentang pergerakan yang relatif sempit membuat disiplin terhadap harga masuk menjadi krusial. Membeli terlalu tinggi akan mempersempit ruang menuju target dan memperbesar jarak risiko.

MTEL direkomendasikan dengan area buy Rp484–Rp488, target harga Rp496–Rp500, dan stop loss di Rp466. Dengan target yang relatif dekat, perbedaan beberapa tick pada harga masuk dapat secara signifikan mengubah profil risk-reward perdagangan.

OMED menjadi saham kelima dengan area buy Rp242–Rp248, target Rp254–Rp258, dan stop loss Rp232. Saham ini mendapat perhatian tambahan setelah erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan abu vulkanik menyebar ke wilayah Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat. Kementerian Kesehatan telah mengimbau warga terdampak untuk membatasi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker.

Sentimen Abu Vulkanik vs Dampak Fundamental

Kondisi tersebut memunculkan sentimen pasar terhadap saham perusahaan alat kesehatan seperti OMED dan MEDS. Namun, perlu dibedakan antara sentimen jangka pendek dengan dampak fundamental. Peningkatan kebutuhan masker tidak otomatis berarti laba perusahaan akan naik secara material, karena dampak bisnis tetap bergantung pada volume penjualan, stok, kontrak, harga produk, serta kontribusi masker terhadap pendapatan keseluruhan.

Perlu dicatat bahwa level-level tersebut merupakan trading idea yang dipublikasikan sebelum pasar dibuka. Target harga bukanlah kepastian bahwa saham akan mencapai level tersebut. Harga pembukaan, volume transaksi, gap, arah IHSG, serta perubahan sentimen dapat membuat skenario berubah.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Fajar
Sumber: digivestasi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top