Pertamina Raih Penghargaan IABC 2026 Berkat Kampanye Digital Respons Bencana

Penulis: Fajar  •  Minggu, 20 September 2026 | 08:50:30 WIB

PAPUAPT Pertamina (Persero) meraih penghargaan Best Digital and Social Media Campaign di ajang IABC Indonesia Awarding Night 2026 yang digelar di Le Meridien Hotel, Jakarta Pusat, Jumat (18/9/2026). Penghargaan ini diberikan atas kampanye komunikasi digital yang dinilai mampu menyampaikan peran perusahaan dalam situasi tanggap darurat bencana secara efektif dan humanis. Pengakuan tersebut menegaskan posisi Pertamina sebagai BUMN energi yang tidak hanya menjaga pasokan, tetapi juga hadir di tengah masyarakat saat akses terputus.

Kampanye yang diangkat bertema peran Pertamina dalam situasi tanggap darurat bencana alam. Lewat berbagai kanal digital, perusahaan mengedukasi masyarakat soal langkah sigap menjaga ketahanan dan penyediaan energi di daerah terdampak, hingga penyaluran bantuan kebutuhan dasar bagi korban.

Kepercayaan di Tengah Gempuran AI

Head of Committee IABC Indonesia Awards 2026, Jeane Niode Sindy, menyoroti perkembangan teknologi kecerdasan artifisial yang mengubah lanskap komunikasi. Menurutnya, kepercayaan dan dampak nyata justru semakin menentukan dalam praktik komunikasi saat ini.

"Teknologi dapat membantu akselerasi proses, namun integritas, empati, dan human touch tetap menjadi penentu utama reputasi sebuah institusi," ujar Jeane dalam sambutannya.

Jeane menambahkan, penghargaan IABC Indonesia bukan sekadar ajang penyerahan trofi. Ajang ini menjadi bentuk apresiasi terhadap praktik komunikasi yang inovatif, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Menyambungkan Energi yang Terputus

VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyebut penghargaan tersebut sebagai apresiasi atas upaya komunikasi terintegrasi yang dijalankan perusahaan, khususnya dalam penanggulangan bencana. Baginya, pengakuan ini sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas program komunikasi ke depan.

"Apresiasi ini tentunya sekaligus sebagai evaluasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas program komunikasi ke depannya. Kami ingin pesan dan kampanye komunikasi yang dijalankan semakin memberikan dampak positif yang nyata, sejalan dengan tujuan Pertamina untuk terus menggerakkan Indonesia melalui semangat 'Energizing Indonesia'," tutur Baron.

Kampanye digital ini berangkat dari kondisi nyata di lapangan. Situasi bencana sering memutus akses distribusi dan fasilitas umum, sementara kebutuhan energi justru melonjak. BBM dan LPG dibutuhkan untuk mengoperasikan alat berat pembuka akses, bahan bakar moda transportasi relawan dan evakuasi korban, hingga pembangkit daya darurat di fasilitas kesehatan, penampungan sementara, dan dapur umum.

"Tema utama yang kami angkat adalah bagaimana Pertamina menyambungkan kembali pasokan dan harapan yang terputus di kala bencana," ujar Baron.

Dampak bagi Masyarakat Terdampak

Ketika akses terputus dan warga membutuhkan tempat berlindung, kebutuhan energi serta pasokan logistik dasar menjadi hal utama. Tanpa keduanya, aktivitas penyelamatan dan pelayanan pengungsi tidak bisa berjalan lancar.

Melalui kampanye media sosial, Pertamina berupaya menjangkau masyarakat di daerah terdampak bencana secara lebih luas. Pesan yang dikemas humanis dan dekat dengan keseharian itu juga dimaksudkan memperkuat rasa saling peduli di tengah situasi darurat.

"Melalui kampanye media sosial, kami berupaya mengoptimalkan peran tersebut dengan berbagai cara agar dapat menjangkau masyarakat di daerah terdampak bencana secara lebih luas dan memperkuat rasa saling peduli di tengah situasi darurat," pungkas Baron.

Penghargaan ini menempatkan komunikasi Pertamina sejajar dengan praktik terbaik industri komunikasi bisnis nasional. Bagi BUMN energi yang operasinya kerap bersinggungan langsung dengan bencana alam, kemampuan menyampaikan peran perusahaan secara transparan dan relevan menjadi modal reputasi jangka panjang.

Reporter: Fajar
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top