Pencarian

Jangan Disapu! Tumpukan Daun di Halaman Bisa Jadi Sarang Opossum

Minggu, 20 September 2026 • 16:36:31 WIB
Jangan Disapu! Tumpukan Daun di Halaman Bisa Jadi Sarang Opossum

PAPUA — Tumpukan daun kering yang menggenang di bawah tangga dek atau sudut garasi sering dikira sampah halaman biasa, padahal itu bisa jadi den sementara opossum. Hewan marsupial asli Amerika Utara ini membangun sarang tanpa pola rapi, hanya tumpukan dedaunan yang dipadatkan ke dalam celah. Sebelum menyapu dan menutup celahnya, ada baiknya kenali dulu tanda-tandanya.

Opossum bukan hewan yang merusak fondasi atau menggali tanah seperti tikus dan tupai. Mereka hanya menempati celah yang sudah ada sebelumnya, lalu pindah ke den baru dalam beberapa hari. Sarangnya pun tidak memiliki struktur arsitektural seperti sarang burung atau drey tupai di atas pohon.

Ciri Sarang Opossum yang Jarang Disadari Pemilik Rumah

Sarang opossum berbentuk gumpalan dedaunan yang dipadatkan ke dalam rongga, tanpa anyaman atau pola tertentu. Bahan utamanya daun kering, rumput rontok, ranting kecil, dan kulit kayu yang mengelupas.

Di area pinggiran kota, opossum juga menambahkan serpihan manusia seperti kertas, kain, atau bungkus plastik ke dalam sarangnya. Lokasinya selalu rendah: bawah anak tangga dek, fondasi gudang, batang kayu berlubang, atau sudut garasi yang gelap dan sejuk.

Jejak Daun yang Menjadi Petunjuk Utama

Opossum mengumpulkan material sarang dengan cara yang khas. Mereka mengambil daun atau rumput dengan mulut, memindahkannya ke bawah tubuh menggunakan kaki, lalu melilitkan ujung ekor yang bisa memegang (prehensile) ke sekitar bundelan tersebut.

Kalau ada tumpukan daun kering yang terselip di celah sempit bawah teras atau gudang, kemungkinan besar opossum sedang membangun sarang di dekat situ. Ekor yang berfungsi seperti lengan tambahan ini jadi pembeda dari hewan lain yang membawa material sarang dengan mulut saja.

Mitos 1: Opossum Penyebar Rabies Utama

Rabies memang bisa menyerang hampir semua mamalia, tapi kasusnya pada opossum sangat jarang — kurang dari 1% dari total kasus hewan liar. Opossum juga tidak kebal terhadap virus rabies, dan kasus terdokumentasi tetap ada.

Organisasi satwa liar sering mengaitkan angka infeksi rendah ini dengan suhu tubuh opossum yang lebih dingin, sekitar 34,4–36,1 derajat Celsius, yang diyakini tidak ramah bagi replikasi virus rabies. Namun anggapan itu belum pernah dibuktikan secara ilmiah.

Penjelasan yang lebih masuk akal: opossum hidup menyendiri, lebih memilih berpura-pura mati daripada berkelahi, dan jarang berinteraksi dengan hewan pembawa rabies berisiko tinggi.

Mitos 2: Opossum Pemakan Kutu yang Efisien

Klaim viral bahwa satu opossum memakan lebih dari 5.000 kutu per musim tidak benar. Angka itu berasal dari studi laboratorium tahun 2009 yang menebak kutu hilang sebagai dimakan, tanpa memeriksa isi perut hewan tersebut.

Studi lanjutan tahun 2021 yang diterbitkan di jurnal Ticks and Tick-borne Diseases membedah lambung opossum liar dan tidak menemukan satu pun kutu. Opossum memang rajin merawat bulunya dan mungkin menelan kutu secara tidak sengaja saat membersihkan diri, tapi mereka tidak berburu kutu.

Diet asli opossum adalah sampah, buah jatuh, tikus, dan serangga. Mengundang mereka ke halaman tidak akan membuat rumput bebas kutu.

Mitos 3: Opossum Merusak Fondasi Rumah

Opossum tidak punya alat fisik untuk menggali halaman atau menggerogoti rumah. Gigi dan cakarnya tidak dirancang untuk menembus kayu atau membuat terowongan di bawah beton, berbeda dari tikus, mencit, atau tupai.

Kalau ada opossum di bawah dek atau crawlspace, hewan itu tidak menerobos masuk. Mereka hanya menempati celah yang sudah ada atau lubang bekas hewan lain. Tujuannya cuma tempat tidur kering sementara, dan biasanya mereka pindah ke den baru dalam beberapa hari.

Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Menutup Celah

Menutup celah di bawah dek atau gudang saat opossum masih di dalam bisa mengurung hewan tersebut. Periksa dulu apakah sarang masih aktif, terutama pada malam hari ketika opossum keluar mencari makan.

Opossum bukan hama yang perlu dimusnahkan. Mereka bukan hewan yang agresif, bukan perusak struktur bangunan, dan kehadirannya biasanya hanya sementara. Kalau tidak ada masalah berarti, membiarkan mereka menyelesaikan masa singgahnya adalah pilihan paling praktis.

Follow papuaonline.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: tomsguide.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks