SEMARANG — TNI Angkatan Darat menempatkan dua unit helikopter baru buatan Rusia di Pangkalan Pusat Penerbang Angkatan Darat (Puspenerbad) Semarang sejak awal September 2026. Kedua armada jenis Mi-35M itu disiapkan untuk memperkuat operasi pendistribusian logistik di wilayah Papua.
Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menyatakan alutsista baru ini dijadwalkan beroperasi penuh pada bulan mendatang. Menurutnya, helikopter tersebut akan menunjang misi kemanusiaan dan mobilitas pasukan di daerah terpencil.
Geografi Papua yang didominasi pegunungan dan perbukitan ekstrem menjadi tantangan utama distribusi logistik melalui jalur darat. Ketinggian medan yang mencapai lebih dari 2.000 kaki di atas permukaan laut membuat moda transportasi udara jadi opsi paling krusial.
Jalur udara dinilai paling memungkinkan untuk menyalurkan bantuan kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan papan ke wilayah pedalaman. Kondisi itu yang membuat TNI AD memprioritaskan penambahan armada helikopter untuk operasi di Papua.
Kehadiran helikopter milik sendiri ini sekaligus mengakhiri ketergantungan TNI AD terhadap pihak luar. Maruli membeberkan bahwa selama belasan hingga puluhan tahun terakhir, instansinya terpaksa menyewa helikopter milik negara lain demi menembus wilayah interior Papua.
"Jadi, selama ini kita ini hanya bisa menyewa heli yang orang luar negeri punya. Sudah berpuluh tahun, ya," tutur Maruli.
Pernyataan itu disampaikan Maruli saat ditemui dalam ajang TNI Fair 2026 di Silang Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (19/9). Ia menyebut operasional dua unit helikopter tersebut kemungkinan mulai berjalan pada Oktober.
"Mungkin operasional bulan 10 ada dua jenis yang bisa, jenis Kamov (angkut) yang bisa untuk membantu masyarakat," ujar Maruli.
Spesifikasi helikopter tersebut dirancang mampu mengangkut beban muatan mulai dari tiga hingga lima ton. Kapasitas itu dinilai ideal untuk memobilisasi pasukan dalam jumlah besar saat mendampingi warga lokal.
Kehadiran unit baru ini diyakini bakal mengoptimalkan efisiensi pengiriman logistik maupun pergerakan personel. Pendistribusian bantuan ke titik-titik terpencil di Papua pun diharapkan berjalan lebih cepat.
Melalui penambahan kekuatan armada udara ini, pimpinan TNI AD berharap seluruh lini operasi kemanusiaan dan pelayanan masyarakat di wilayah Papua dapat terlaksana jauh lebih efektif dan mandiri.