Inflasi September 2026 Naik ke 3,28%, Mendagri Tito Ingatkan Batas 3,5%

Penulis: Sutomo  •  Senin, 12 Oktober 2026 | 13:52:01 WIB
Mendagri Tito Karnavian memimpin Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2026 di Kantor Kemendagri, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026).

PAPUA — Inflasi tahunan Indonesia naik dari 3,19% pada Agustus menjadi 3,28% pada September 2026, mendekati batas atas sasaran pemerintah 3,5%. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian meminta pemerintah pusat dan daerah memperkuat sinergi pengendalian harga, karena kelompok termiskin paling terpukul oleh kenaikan kebutuhan pokok.

Permintaan itu disampaikan Tito dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 di Kantor Kemendagri, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026). Ia menyebut ruang fiskal pemerintah untuk menahan harga semakin sempit seiring tekanan eksternal yang belum mereda.

"Dan ini sudah mendekati titik yang penting bagi kita, yaitu threshold tertinggi yang ditarget oleh pemerintah adalah 3,5%. Kita harus berusaha keras, pusat dan daerah, agar jangan sampai di atas 3,5%," ujar Tito.

Kelompok Desil 1 dan 2 Paling Terpukul

Menurut Tito, kenaikan harga paling dirasakan masyarakat berpenghasilan rendah, khususnya kelompok desil 1 dan 2. Kelompok itu bergantung pada pendapatan harian, sehingga lonjakan harga komoditas beberapa ribu rupiah saja langsung menggerus daya beli.

"Masyarakat yang termiskin 20%, hidupnya harian, kenaikan komoditas sekian ribu rupiah saja itu sudah sangat berpengaruh bagi mereka. Kalau kelas menengah mungkin belum terasa," jelasnya.

Inflasi bulanan juga meningkat dari 0,21% pada Agustus menjadi 0,30% pada September. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 0,88% dan menjadi penyumbang terbesar.

Cabai hingga Telur Jadi Pendorong Harga

Sejumlah komoditas pangan menyumbang inflasi kelompok tersebut, mulai dari cabai, daging ayam ras, beras, hingga telur ayam ras. Tito meminta pemerintah daerah memberi perhatian khusus pada harga beras, ayam, dan telur karena ketiganya kebutuhan pokok masyarakat luas.

Bagi pelaku usaha di sektor pangan, tekanan ini berpotensi menekan margin jika kenaikan biaya bahan baku tidak bisa diteruskan ke harga jual. Pemerintah daerah punya ruang intervensi lewat operasi pasar dan kerja sama antardaerah untuk menjaga pasokan.

Sulawesi Utara Catat Inflasi Tahunan Tertinggi 7,59%

Di tingkat daerah, Sulawesi Utara mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 7,59%. Sejumlah wilayah lain masuk daftar inflasi tinggi, antara lain:

  • Maluku Utara
  • Gorontalo
  • Papua Pegunungan
  • Papua Tengah
  • Papua Barat

Angka Sulawesi Utara lebih dari dua kali lipat inflasi nasional. Kondisi geografis kepulauan dan ketergantungan pasokan dari luar daerah menjadi faktor yang membuat harga di wilayah tersebut lebih rentan bergejolak.

Tekanan Geopolitik dan Bencana Alam Jadi Risiko

Tito juga mengingatkan adanya tekanan dari kondisi geopolitik global dan bencana alam di dalam negeri. Ketegangan di Timur Tengah dinilai berpengaruh terhadap produksi dan distribusi minyak, sementara banjir serta kebakaran hutan dan lahan berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi.

"Ketegangan di Timur Tengah, terutama yang masih terus terjadi dan dinamis, bahkan kemarin sempat meningkat dengan adanya serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap Saudi, menyerang bandara Riyadh di Saudi, itu menimbulkan ketegangan baru, eskalasi, yang berpengaruh kepada situasi produksi dan distribusi minyak," tutup Tito.

Bagi investor, kombinasi inflasi yang mendekati batas atas dan risiko eksternal menjadi faktor yang perlu dicermati dalam menyusun ekspektasi terhadap arah suku bunga Bank Indonesia ke depan. Pemerintah daerah diminta mempercepat langkah pengendalian harga sebelum tekanan musiman akhir tahun memperlebar jarak inflasi dari sasaran.

Reporter: Sutomo
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top