JAKARTA — Sebanyak delapan personel kontingen Papua diterjunkan ke Jambore Nasional PPS-SMI 2026 yang berlangsung di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta, pada 13–18 Oktober 2026. Rombongan dipimpin langsung Ketua Umum PPS-SMI Komda Papua, Yanni, yang bertindak sebagai official.
Komposisi tim Papua mencakup dua pelatih, David Raweyai dan Eli Markonis Raweyai, seorang wasit bernama Yenny, serta empat atlet: Karel Kamari Raweyai, Heppy Donhein Raweyai, Thomas Zakeus Marisan, dan Widya Sakti Raweyai. Seluruh peserta dijadwalkan mengikuti semua tahapan jambore tanpa kecuali.
Menjelang pertandingan, Yanni meminta setiap anggota tim mematuhi arahan pelatih dan menjaga koordinasi dengan official jika menghadapi kendala di lokasi. Ia juga mengingatkan para pelatih untuk mendampingi atlet selama rangkaian kegiatan berlangsung.
"Disiplin harus menjadi sikap setiap pesilat. Jaga kekompakan, hormati lawan, patuhi arahan pelatih, dan bawa nama Papua dengan penuh tanggung jawab. Kita datang untuk bertanding sekaligus menunjukkan karakter dan jati diri sebagai orang Papua," kata Yanni di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Pembukaan jambore pada Kamis (15/10/2026) dihadiri Ketua Umum PPS-SMI Edhy Prabowo. Sebanyak 14 Komda SMI dengan total atlet dan pelatih lebih dari seribu seratus orang dijadwalkan mengikuti seluruh tahapan kegiatan.
Menurut Yanni, pencak silat membawa nilai penting dalam pembentukan karakter sekaligus mempererat hubungan antardaerah. Lewat jambore, para pesilat dapat saling mengenal, menguji kemampuan, dan memperkuat persaudaraan di lingkungan perguruan.
"Perbedaan daerah tidak boleh memisahkan kita. Di gelanggang, kita bertanding dengan menjunjung sportivitas. Di luar gelanggang, kita tetap saudara. Itulah semangat nasionalisme yang harus tumbuh bersama kecintaan kita terhadap pencak silat," ujarnya.
Jambore nasional juga menjadi ajang evaluasi bagi tim Papua untuk mengukur kemampuan sekaligus menambah pengalaman bertanding. Hasil dari kegiatan ini diharapkan menjadi bekal pembinaan atlet di daerah ke depan.
Yanni menegaskan, menjaga nama baik Papua harus tercermin dalam sikap setiap anggota tim, baik saat bertanding maupun ketika berinteraksi dengan peserta dari daerah lain.
"Disiplin, sportivitas, dan rasa persaudaraan menjadi bagian penting dari jati diri pesilat yang mereka bawa ke gelanggang nasional," tandasnya.