JAKARTA — Kontingen Papua membawa komposisi lengkap ke Jambore Nasional PPS-SMI 2026. Yanni bertindak sebagai official, didampingi dua pelatih David Raweyai dan Eli Markonis Raweyai, wasit Yenny, serta empat atlet: Karel Kamari Raweyai, Heppy Donhein Raweyai, Thomas Zakeus Marisan, dan Widya Sakti Raweyai.
Pembukaan jambore berlangsung pada Kamis (15/10/2026) dan dihadiri Ketua Umum PPS-SMI Edhy Prabowo. Sebanyak 14 Komda SMI mengirimkan atlet dan pelatih dengan total peserta lebih dari seribu seratus orang yang dijadwalkan mengikuti semua tahapan kegiatan.
Arahan Yanni Sebelum Bertanding
Menjelang pertandingan, Yanni meminta setiap anggota tim mengikuti arahan pelatih dan menjaga koordinasi dengan official jika menghadapi kendala. Ia juga mengingatkan para pelatih agar mendampingi atlet selama pertandingan berlangsung.
"Disiplin harus menjadi sikap setiap pesilat. Jaga kekompakan, hormati lawan, patuhi arahan pelatih, dan bawa nama Papua dengan penuh tanggung jawab. Kita datang untuk bertanding sekaligus menunjukkan karakter dan jati diri sebagai orang Papua," kata Yanni di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Pencak Silat sebagai Ruang Persaudaraan Antardaerah
Yanni menilai pencak silat punya peran ganda: membentuk karakter sekaligus mempererat hubungan antardaerah. Lewat jambore, para pesilat bisa saling mengenal, menguji kemampuan, dan memperkuat persaudaraan di lingkungan perguruan.
"Perbedaan daerah tidak boleh memisahkan kita. Di gelanggang, kita bertanding dengan menjunjung sportivitas. Di luar gelanggang, kita tetap saudara. Itulah semangat nasionalisme yang harus tumbuh bersama kecintaan kita terhadap pencak silat," ujarnya.
Bekal Pembinaan Atlet Daerah
Jambore juga menjadi kesempatan bagi tim Papua melakukan evaluasi dan menambah pengalaman bertanding. Hasil dari kegiatan ini diharapkan menjadi bekal bagi pembinaan atlet di daerah.
Menjaga nama baik Papua, menurut Yanni, harus tercermin dalam sikap setiap anggota tim, baik saat bertanding maupun ketika berinteraksi dengan peserta dari daerah lain.
"Disiplin, sportivitas, dan rasa persaudaraan menjadi bagian penting dari jati diri pesilat yang mereka bawa ke gelanggang nasional," demikian Yanni.