PAPUA — Ekspor minyak mentah Arab Saudi naik 7,9% menjadi 4,451 juta barel per hari pada Agustus 2026, level tertinggi sejak Maret. Kenaikan pengiriman ke luar negeri berjalan berlawanan arah dengan produksi yang merosot tajam ke 6,24 juta bph, terendah dalam catatan data terbaru.
Angka ekspor Agustus itu melampaui capaian Juli sebesar 4,125 juta bph, menurut data Joint Organisations Data Initiative (JODI) yang dilaporkan Reuters. Sementara itu, produksi minyak mentah Arab Saudi turun dari 8,135 juta bph pada Juli menjadi 6,24 juta bph pada Agustus.
Penurunan produksi tidak diikuti melemahnya pengiriman. Arab Saudi justru memanfaatkan sisa kapasitas penyimpanan dan jaringan terminal untuk menjaga volume ekspor tetap tinggi.
Pengolahan minyak mentah di kilang dalam negeri Arab Saudi turun 181.000 bph menjadi 2,297 juta bph pada Agustus, dari 2,478 juta bph sebulan sebelumnya. Penurunan serapan kilang ini memberi ruang tambahan bagi minyak mentah untuk dijual ke pasar luar negeri.
Di sisi lain, penggunaan minyak mentah secara langsung untuk pembakaran justru naik 43.000 bph menjadi sekitar 604.000 bph. Artinya, sebagian minyak tetap dialihkan untuk kebutuhan energi domestik, bukan untuk ekspor.
Pemulihan ekspor berlangsung saat pengiriman minyak di Timur Tengah terganggu akibat konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang dimulai akhir Februari. Gangguan itu menghambat jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu arteri perdagangan minyak dunia.
Arab Saudi merespons dengan mengoptimalkan jalur ekspor alternatif melalui terminal di kedua pesisirnya. Strategi ini memungkinkan pengiriman tetap berjalan meski rute utama berisiko.
"Meski terdapat ketegangan regional, Arab Saudi mampu terus memulihkan volume ekspor minyak mentah dengan memanfaatkan terminal di kedua pesisirnya," kata analis UBS Giovanni Staunovo dikutip dari Reuters.
Data JODI menunjukkan ekspor minyak mentah Arab Saudi sempat menyentuh titik terendah 3,434 juta bph pada Mei. Volume itu kemudian naik menjadi 3,993 juta bph pada Juni sebelum berlanjut ke level Agustus.
Staunovo memperkirakan pemulihan ekspor berlanjut pada September dan Oktober. Namun ia mengingatkan situasi keamanan regional masih bergejolak dan bisa mengubah arah pengiriman.
Bagi pedagang minyak, kombinasi ekspor tinggi dan produksi rendah menunjukkan Arab Saudi menguras persediaan untuk memenuhi permintaan. Jika produksi tidak segera pulih, kemampuan negara itu mempertahankan volume ekspor akan bergantung pada stok yang tersisa.
Pasar juga mencermati risiko gangguan Selat Hormuz. Setiap eskalasi di jalur tersebut berpotensi mendorong harga minyak dunia, sekaligus menguji ketahanan rute alternatif yang kini jadi tumpuan Riyadh.