PORT MORESBY — Universitas Papua (UNIPA), Universitas Cenderawasih (UNCEN), dan Universitas Okmin Papua (UOP) bersama sejumlah kampus dari Papua Nugini dan Kepulauan Solomon menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) pembentukan BSS Science Hub – University Partnership. Penandatanganan berlangsung Kamis (14/5) di APEC Haus, Port Moresby, dalam forum yang dihadiri lebih dari 50 perwakilan perguruan tinggi, pemerintah, LSM, lembaga riset, dan mitra pembangunan regional.
Kemitraan ini difokuskan pada penguatan riset pesisir dan kelautan, inovasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pengembangan kebijakan publik berbasis keilmuan di kawasan Bismarck Solomon. Seluruh program berada di bawah naungan CTI-CFF—sebuah inisiatif multilateral yang mencakup wilayah Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle).
Dukungan WWF dan Kementerian Kelautan dan Perikanan
Inisiatif ini mendapat dukungan penuh dari jaringan WWF, termasuk WWF Indonesia, WWF Papua New Guinea, WWF Solomon Islands, dan WWF Pacific. WWF Indonesia berperan aktif mendampingi perguruan tinggi dan pemerintah daerah, serta berkoordinasi intensif dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI untuk memastikan kelancaran proses sejak pengembangan hingga penandatanganan.
Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang juga menunjukkan komitmen serupa. Dukungan ini dinilai krusial untuk menyelaraskan kebijakan pembangunan, upaya konservasi, peningkatan kapasitas masyarakat adat, serta penguatan jejaring kerja sama lintas negara di kawasan Pasifik dan Coral Triangle.
Empat Program Strategis yang Akan Dijalankan
Berdasarkan naskah kesepakatan, BSS Science Hub akan menjalankan sejumlah program strategis. Pertama, kolaborasi riset dan publikasi bersama. Kedua, pertukaran dosen dan mahasiswa antarperguruan tinggi di tiga negara. Ketiga, penyelenggaraan simposium ilmiah dan sekolah lapangan (field school). Keempat, pengembangan sistem berbagi pengetahuan (knowledge sharing system).
Ke depan, Hub ini diproyeksikan menjadi wadah pembelajaran kolaboratif (exchange learning) dan pertukaran pengalaman (peer-to-peer learning) yang inklusif. Target pesertanya tidak hanya akademisi, tetapi juga masyarakat adat, komunitas lokal, LSM, dan praktisi pelestarian lingkungan.
Mengapa Kearifan Lokal Menjadi Pilar Utama?
Seluruh pihak yang terlibat menegaskan bahwa tata kelola kelautan yang berkelanjutan menuntut integrasi antara sains modern, kebijakan publik, dan kearifan ekologis tradisional. Masyarakat adat dan komunitas pesisir ditempatkan sebagai garda terdepan penjaga ekosistem laut.
Kemitraan ini diarahkan untuk mendukung program dan kebijakan strategis pemerintah di tingkat daerah maupun nasional. Tujuannya: mewujudkan pembangunan inklusif di kawasan Bismarck Solomon Seascape dan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle)—wilayah yang dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut global.