JAYAPURA — Capaian tersebut disampaikan Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan KPPBC Tipe Madya Pabean C Jayapura, Eston Erlangga, di Jayapura, Rabu. Ia merinci penerimaan bea masuk dari kegiatan impor dua perusahaan tambang dan energi itu menjadi penopang utama.
"Capaian tersebut terutama ditopang oleh penerimaan bea masuk yang berasal dari kegiatan impor PT Freeport Indonesia dan PT AKR Corporindo Tbk di Timika," kata Eston.
Selain itu, penerimaan juga didorong oleh bea masuk dari skema impor sementara atas pemasukan kapal riset seismik melalui Pelabuhan Jayapura. Menurut Eston, dua aktivitas impor tersebut menjadi penyumbang utama capaian hingga Mei 2026.
Neraca Dagang Papua Defisit Akibat Lonjakan Impor
Dari sisi perdagangan internasional, nilai ekspor Papua hingga Mei 2026 tercatat hanya 6,93 juta dolar AS, sementara nilai impor melonjak menjadi 216,36 juta dolar AS. Akibatnya, neraca perdagangan regional mencatat defisit sebesar 209,43 juta dolar AS.
Eston menjelaskan peningkatan nilai impor dipicu kebutuhan barang untuk mendukung perbaikan tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia. Perusahaan itu tengah memulihkan operasi setelah terjadi longsor material basah di area tambang.
Ekspor Konsentrat Freeport Berhenti, Smelter Gresik Jadi Tujuan
Di sisi lain, penurunan nilai ekspor terjadi karena berhentinya pengiriman konsentrat tembaga PT Freeport Indonesia ke luar negeri. Seluruh hasil produksi kini dikirim ke fasilitas smelter di Gresik, Jawa Timur, sehingga tidak lagi tercatat sebagai ekspor dari wilayah Papua.
"Struktur ekspor Papua saat ini terutama ditopang oleh ekspor plywood dari KB PT SWPI di Biak serta ekspor kayu dan barang kebutuhan rumah tangga melalui wilayah kerja KPPBC Jayapura," ujar Eston.
Di luar komoditas konsentrat tembaga, kinerja ekspor regional Papua hingga April 2026 masih mengalami kontraksi sebesar 46 persen. Angka ini menunjukkan diversifikasi komoditas ekspor dari Papua masih terbatas dan sangat bergantung pada sektor tertentu.