JAKARTA — Dua arus besar yang saling bertolak belakang disebut mengisi keseharian masyarakat Papua: cita-cita kemerdekaan yang belum usai dan judi online (judol) yang diam-diam menggerus masa depan. Hal itu disampaikan Pastor Alexander Rangga, OFM, dalam diskusi dan bedah buku "Memoria Passionis" seri 43 di Universitas Paramadina, Jakarta, Sabtu (17/5/2025). Menurutnya, kedua hal ini telah menjadi agenda utama dan rutinitas sehari-hari, baik di kantor pemerintahan maupun di rumah-rumah warga.
Doa Kemerdekaan yang Belum Usai
Pastor Alexander menyebut wacana "Papua Barat Merdeka" bukan sekadar slogan politik, melainkan doa yang lahir dari pengalaman panjang ketimpangan. "Ia berakar pada sejarah panjang, rasa tidak aman, ketimpangan pembangunan, dan kerinduan akan penentuan nasib sendiri," ujarnya dalam forum yang digelar JPIC-OFM Papua itu.
Bagi banyak orang Papua, kata "merdeka" menjadi bahasa doa agar diakui sebagai manusia seutuhnya. Keadilan yang mereka harapkan, menurut perspektif Injili yang ditekankan Pastor Alexander, berwujud nyata seperti jalan tembus ke kampung, guru yang hadir di kelas, dokter di puskesmas, serta harga beras yang wajar. "Selama ruang dialog masih sempit dan ketimpangan masih terasa, 'Papua Barat Merdeka' akan terus menjadi percakapan," tegasnya.
Judol: Musuh yang Menggerus dari Dalam
Di sisi lain, judi online menjadi ancaman yang tak kalah serius. Berbeda dengan wacana kemerdekaan yang diperjuangkan secara sadar, judol masuk diam-diam lewat gawai dan internet. "Agenda ini tidak pernah diajukan siapa pun, tetapi masuk diam-diam lewat gawai dan internet," kata Pastor Alexander.
Dampaknya sangat nyata: uang untuk beras, biaya sekolah, hingga bibit kebun habis dalam hitungan menit. Ironisnya, dua realitas ini hidup berdampingan. "Satu memperjuangkan kedaulatan bangsa. Satu lagi menghancurkan kedaulatan diri," ujarnya. Dari perspektif keutuhan ciptaan, judol disebut sebagai perusakan yang merusak relasi keluarga, merapuhkan ekonomi rumah tangga, dan mencuri masa depan generasi.
Pastor Alexander menekankan bahwa penanganan judol tidak cukup dengan pemblokiran situs. Dibutuhkan literasi digital, penguatan ekonomi keluarga, dan ruang kreatif yang memberi harapan nyata bagi anak muda. Gereja, komunitas adat, pemerintah, dan keluarga harus melihat judol sebagai musuh bersama, bukan sekadar hiburan.
Politik Praktis: Antara Transaksi dan Musyawarah
Dalam kesempatan yang sama, Pastor Alexander juga menyoroti politik praktis di Papua yang memiliki dua wajah. Di satu sisi, politik sering direduksi menjadi transaksi kekuasaan dan jabatan berdasarkan kedekatan, bukan kapasitas. Akibatnya, meritokrasi melemah dan kritik sehat sulit tumbuh.
Namun, ada sisi positif yang lahir dari budaya Papua sendiri, yaitu kebiasaan berkumpul, berunding, dan mencari jalan tengah dalam forum adat atau noken. "Semangat kebersamaan ini, jika diarahkan dengan benar, bisa menjadi kekuatan politik praktis yang sehat," ujarnya. Politik praktis, menurutnya, dapat menjadi alat mobilisasi warga untuk menuntut jalan, listrik, sekolah, dan puskesmas.
Kompas Injili untuk Jalan Tengah
Pastor Alexander menawarkan tiga pijakan yang bisa menjadi kompas bersama bagi Papua. Pertama, kebenaran dan keadilan yang menuntut semua pihak berani duduk satu meja: pemerintah, TNI-Polri, gereja, tokoh adat, dan akademisi. Kedua, perdamaian yang tidak bisa dipisahkan dari keadilan. Ketiga, keutuhan ciptaan yang menolak segala bentuk perusakan, termasuk judol.
"Injil tidak hanya berbicara tentang surga kelak, tetapi juga 'damai sejahtera di bumi' hari ini," pungkasnya. Diskusi ini menjadi pengingat bahwa persoalan Papua tidak bisa dilihat dari satu sisi saja, melainkan sebagai realitas kompleks yang membutuhkan pendekatan holistik.