JAYAPURA — Keberadaan UMKM di Kabupaten Jayapura menjadi penopang utama Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dari data dinas setempat, terdapat 6.000 unit usaha yang tersebar di seluruh distrik, mulai dari pedagang pinang hingga peternak ayam petelur. Di tengah geliat ekonomi lokal itu, digitalisasi pembayaran mulai diadopsi secara bertahap.
Peternak Ayam Petelur Rasakan Manfaat Langsung
Salah satu pelaku yang merasakan dampak positif adalah Winardi, peternak ayam petelur di Dosay, Distrik Sentani Barat. Ia mengaku transaksi menggunakan QRIS memangkas waktu pembayaran dan menghilangkan kekhawatiran menerima uang palsu yang kerap merugikan.
"Biasanya kalau transaksi pembayaran terkadang menggunakan QRIS, transfer dan cash. Tetapi jika pakai QRIS biasanya langsung transaksi di tempat dan itu memberikan kemudahan," ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Meski demikian, Winardi mencatat kelemahan sistem ini, yakni potongan biaya admin ketika bertransaksi antar bank. Namun, ia menilai keuntungan berupa kenaikan omzet dan perluasan pasar jauh lebih besar. "Terkadang ada pembeli langsung datang dan bayar pakai QRIS atau e-Wallet," tambahnya.
Harapan Pengawasan Data Nasabah dan Sosialisasi ke Kampung
Winardi juga menyoroti perlunya pengawasan ketat terhadap sistem pembayaran digital. Ia khawatir data nasabah bisa bocor dan merugikan pelaku UMKM di Papua. "Kami juga berharap sistem ini terus dilakukan pengawasan guna mencegah supaya data nasabah tidak mengalami kebobolan oleh pihak tak bertanggung jawab," tegasnya.
Sementara itu, Novila Maria Aru, pelaku UMKM kuliner dari Kelompok Inger Wewa di Kampung Sawe Suma, Distrik Unurum Guay, mengungkapkan realitas berbeda di pedalaman. Usaha roti berbahan ubi jalar dan martabak sagu yang ia rintis masih 100 persen menggunakan pembayaran tunai.
"Mama di kampung sebagian besar belum paham menggunakan sistem pembayaran digitalisasi sehingga kebanyakan transaksi masih menggunakan manual atau cash. Harapannya ini disosialisasikan secara masif," ungkap Novila.
Digitalisasi sebagai Penggerak Ekonomi di Tingkat Akar Rumput
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Jayapura, Haryanto, menegaskan bahwa UMKM lokal—termasuk mama penjual pinang dan penjual minyak di pinggir jalan—adalah tulang punggung pembangunan daerah. Menurutnya, transaksi digital bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan untuk mempercepat perputaran uang di tengah masyarakat.
Novila menambahkan, transaksi digitalisasi bisa memicu perputaran uang dengan cepat sehingga menggerakkan ekonomi di kampung. Ia berharap pemerintah daerah dan perbankan turun langsung memberikan pelatihan agar para pelaku usaha di pedalaman tidak tertinggal.
Dengan jumlah UMKM yang mencapai ribuan, adopsi QRIS di Kabupaten Jayapura masih berjalan timpang antara wilayah perkotaan dan pedalaman. Sosialisasi dan pendampingan teknis menjadi kunci agar sistem pembayaran modern ini bisa dinikmati seluruh lapisan pelaku usaha lokal.