PAPUA — Pertamina Drilling tidak berangkat dengan tangan kosong. Perusahaan saat ini mengoperasikan 58 rig yang terdiri dari 53 land rig, dua offshore workover rig, dan dua offshore jack-up rig. Selain itu, terdapat lebih dari 110 layanan pendukung pengeboran yang siap dijual ke pasar internasional.
Untuk memastikan kualitas sumber daya manusia, perusahaan memiliki Indonesia Drilling Training Center (IDTC). Fasilitas ini menyediakan pelatihan langsung dengan real 150 HP rig, simulator well control, serta berbagai program sertifikasi berstandar internasional. Keunggulan inilah yang coba dijual Pertamina Drilling ke mitra di luar negeri.
Aljazair dan Irak: Pasar Pertama yang Dijajaki
Untuk pasar Aljazair, Pertamina Drilling menyiapkan layanan associated drilling seperti drilling fluid, directional drilling, cementing, fishing, coring, casing running, hingga workover support. Perusahaan juga menawarkan technical supervision dan pendampingan penguatan kapasitas mitra lokal.
Sementara di Irak, peluang yang tengah dijajaki mencakup drilling and well intervention, Integrated Project Management (IPM), serta layanan operasi dan pemeliharaan. Pertamina Drilling telah menjalin komunikasi intensif dengan Iraqi Drilling Company (IDC), termasuk kunjungan langsung ke Basra pada September 2025 dan pembahasan lanjutan pada Juni 2026.
Direktur Marketing dan Commercial Pertamina Drilling, Jufrihadi, menegaskan ekspansi ini tidak dilakukan asal-asalan. "Kami melihat peluang global sebagai ruang untuk membawa kapabilitas Pertamina Drilling ke tingkat yang lebih luas. Strateginya bukan sekadar masuk ke pasar baru, tetapi membangun kemitraan yang tepat, mengakses teknologi yang dibutuhkan, serta memastikan setiap peluang memiliki nilai tambah dan risiko yang terukur," ujarnya dalam acara yang mengusung tema "Partnership Beyond Borders" tersebut.
Kemitraan Jadi Kunci, Bukan Sekadar Ekspansi
Jufrihadi menekankan bahwa kemitraan strategis menjadi faktor krusial dalam strategi ekspansi ini. Perusahaan tidak ingin hanya menjadi kontraktor asing yang datang dan pergi, melainkan membangun hubungan jangka panjang dengan perusahaan migas negara setempat.
Langkah ini sejalan dengan arahan holding Pertamina untuk mendorong anak usaha go global. Dengan pengalaman puluhan tahun mengelola pengeboran di berbagai medan di Indonesia, dari darat hingga lepas pantai, Pertamina Drilling menilai kapabilitasnya sudah setara dengan kontraktor pengeboran internasional lainnya.
Ekspansi ke Aljazair dan Irak juga menjadi batu loncatan untuk pasar Timor-Leste yang disebut-sebut turut menjadi target. Jika berhasil, pendapatan dari luar negeri akan memperkuat fundamental keuangan perusahaan di tengah fluktuasi harga minyak dunia.
Langkah Pertamina Drilling ini menegaskan bahwa BUMN migas Indonesia tidak lagi hanya bermain di pasar domestik. Dengan modal peralatan, SDM terlatih, dan jaringan kemitraan, anak usaha Pertamina ini mencoba mengambil porsi lebih besar di industri pengeboran global yang diperkirakan tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan energi dunia.