MERAUKE — Bupati Merauke, Yoseph Bladib Gebze, mengingatkan para penerima agar tidak berhenti pada sekadar menerima bantuan. Ia meminta modal yang diberikan dikelola secara bertanggung jawab dan dikembangkan hingga usaha mencapai kemandirian.
“Minimal dalam kelompok itu kita bisa saling memperkuat. Saling menguatkan itu perlu supaya usaha yang kita lakukan bisa berjalan dengan baik,” kata Gebze saat penyerahan bantuan di Merauke, Sabtu (15/8/2026).
Ia juga menyoroti pengalaman sebelumnya di mana sejumlah kelompok justru terpecah setelah dana cair. Menurutnya, kekompakan menjadi kunci agar usaha kolektif dapat bertahan.
Besaran Bantuan Ditentukan Verifikasi Lapangan, Bukan Pengajuan
Kepala Dinas Perindagkop Merauke, Erick Rumlus, menjelaskan nilai bantuan bervariasi antara Rp15 juta hingga Rp50 juta per kelompok. Penentuan besaran ini dilakukan setelah petugas dinas melakukan verifikasi faktual langsung ke lokasi usaha, bukan berdasarkan nominal yang diajukan kelompok.
“Yang paling tinggi ada yang Rp50 juta, paling rendah Rp15 juta, sesuai dengan hasil verifikasi faktual teman-teman di tempat usaha mereka,” ujarnya.
Sebelum dinyatakan layak, calon penerima wajib memenuhi persyaratan administrasi seperti memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Verifikasi lapangan kemudian dilakukan bersama kepala distrik dan aparat kampung untuk memastikan kondisi riil usaha.
Peluang Jadi Pemasok Program MBG
Gebze mendorong pelaku UMKM membaca peluang pasar di sekitar mereka, termasuk menjadi pemasok kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, kebutuhan dapur MBG seperti telur, ikan, daging, sayur, beras dan buah bisa menjadi pintu masuk bagi usaha produktif warga.
“Kalau dari UMKM kita ada yang bergerak menjadi penyedia, misalnya menyediakan sayur atau telur, atau mengkoordinasikan masyarakat di kampung untuk membuat peternakan, kita akan bantu,” katanya.
Ia juga meminta Dinas Perindagkop melakukan pendampingan dan evaluasi berkala. Kelompok yang menunjukkan perkembangan dapat dipertimbangkan mendapat stimulus lanjutan atau direkomendasikan untuk pembiayaan perbankan.
Penerima Bantuan Tidak Otomatis Dapat Lagi Tahun Depan
Erick menegaskan bahwa bantuan tahun ini tidak menjamin kelompok yang sama menerima dana kembali pada tahun berikutnya. Pemerintah akan mengevaluasi perkembangan usaha terlebih dahulu sebelum memberikan dukungan lanjutan.
Pemantauan dilakukan secara berkala oleh bidang yang menangani UMKM dengan melibatkan aparat kelurahan dan distrik. Kelompok yang dinilai berkembang dapat dipertimbangkan memperoleh tambahan modal pada tahun anggaran berikutnya.
Kelompok Usaha di Kaptel Terima Rp50 Juta untuk Ikan Asin dan Dendeng Rusa
Salah satu penerima, Stefanus Boyen, anggota Kelompok Usaha Obayahanem Patul dari Kampung Kwemsid, Distrik Kaptel, mengaku baru pertama kali menerima bantuan sebesar Rp50 juta. Kelompoknya yang beranggotakan tujuh orang selama ini mengolah hasil perikanan dan hasil hutan menjadi ikan asin dan dendeng rusa.
Boyen menyebut produksi ikan asin dalam kondisi tertentu bisa mencapai sekitar satu ton per minggu, sementara dendeng rusa berkisar 500 hingga 700 kilogram per minggu. Usaha ini telah dijalankannya secara mandiri sejak 2015, namun terkendala modal dan akses transportasi.
Dengan tambahan modal ini, kelompoknya berencana meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas pasar. Selama ini hasil produksi mereka antara lain dipasarkan ke pusat Distrik Okaba, sementara biaya transportasi dan penyeberangan menjadi beban besar untuk menjangkau pasar yang lebih luas.