PAPUA — Adipati Koesmadji, yang akrab disapa Adipati Dolken, mendapat tantangan besar saat bersiap membintangi film garapan sutradara Min Lim ini. Selain harus mendalami karakter bernama Adi, ia dituntut fasih berdialog dalam bahasa Melayu—sesuatu yang sama sekali baru baginya.
Proses Casting yang Panjang dan Penuh Keraguan
Keraguan itu nyata. Dalam sesi wawancara usai press screening di fX Sudirman, Jakarta, Senin (24/8/2026), Adipati bercerita bahwa ia sempat menunda membalas tawaran dari tim produksi Malaysia tersebut.
"Aku sampai bikin 20 kali video untuk casting karena aku merasa enggak bagus-bagus. Jadi kayak masih kurang, masih kurang, masih kurang. Aku juga membalas tawaran mereka lumayan lama karena enggak yakin bisa. Tapi akhirnya aku kirim 20 video dan diterima," ujarnya.
Kegelisahan Adipati berlanjut hingga tahap reading. Ia menyebut para pemain lain sempat kecewa karena kemampuan Melayunya belum mumpuni. Namun, suasana kekeluargaan di lokasi syuting membuatnya cepat beradaptasi.
"Waktu reading, mereka sempat kecewa karena ternyata aku enggak bisa bahasa Melayu. Tapi mereka sabar sampai akhirnya aku dibantuin sama semuanya. Mimi dan pemain-pemain yang lain juga banyak membantu," tuturnya.
Ia menambahkan, "Mereka sangat suportif dan menerima aku sebagai outsider yang datang ke sana. Aku juga dianggap seperti keluarga."
Belajar Bahasa Perlis, Dialek yang Lebih Sulit dari Bahasa Malaysia Umum
Perjuangan Adipati tidak berhenti di bahasa Melayu standar. Saat syuting dimulai, ia justru menemukan bahwa para pemain lokal menggunakan dialek Perlis—bahasa khas wilayah utara Malaysia yang jauh lebih kompleks.
"Aku harus belajar bahasa Malaysia secara umum, tetapi waktu syuting mereka ternyata enggak menggunakan bahasa itu. Mereka menggunakan bahasa Perlis yang lebih susah daripada bahasa Malaysia pada umumnya," jelasnya.
Kebingungan sempat melanda. "Waktu mereka ngomong bahasa Perlis, aku enggak bisa membedakan mana bahasa Perlis dan bahasa Malaysia. Aku pikir, 'Oh, ini kali ya ngomongnya seperti ini.' Ternyata salah semua waktu aku ngomong," tambahnya.
Kolaborasi Tiga Negara yang Membekas
Meski penuh tantangan, proyek ini menjadi pengalaman berharga bagi Adipati. Mojoku Hilang! menghadirkan kolaborasi lintas negara yang jarang terjadi di industri film Asia Tenggara.
"Film ini lumayan membekas buat aku karena ini salah satu project yang menggabungkan Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Kolaborasi kulturalnya juga banyak," ungkapnya.
Dengan latar cerita di Malaysia, film ini dijadwalkan tayang perdana di bioskop Indonesia pada 28 Agustus. Kehadiran Adipati di panggung perfilman Malaysia menandai langkah baru bagi aktor yang selama ini dikenal lewat berbagai judul film dan serial Indonesia.