Pencarian

Merah Putih: One for All Bakal Dibuat Live Action, Endiarto Kembali Sutradarai

Sabtu, 19 September 2026 • 16:36:01 WIB
Merah Putih: One for All Bakal Dibuat Live Action, Endiarto Kembali Sutradarai

PAPUA — Film animasi Merah Putih: One for All dipastikan bakal diadaptasi menjadi versi live action. Produser sekaligus sutradara Endiarto mengumumkan langsung proyek layar lebar bertema proklamasi kemerdekaan itu, dengan alasan utama minimnya tontonan serupa di bioskop Indonesia. Seluruh hak kekayaan intelektual tetap di bawah naungan Perfiki, dan proses produksi bakal digarap tim internal studio.

Kabar ini disampaikan Endiarto saat dihubungi awak media pada Jumat (18/9/2026). Ia menyebut keputusan membuat versi manusia diambil setelah melihat respons publik terhadap karya animasi sebelumnya.

Sejumlah warganet sempat menantang adanya karya nyata bertema proklamasi kemerdekaan. Tantangan itu, menurut Endiarto, tidak diikuti kontribusi dari pihak mana pun.

Alasan di Balik Adaptasi Live Action

Endiarto menilai bioskop Indonesia masih kosong dari film yang secara khusus mengangkat momen proklamasi. Padahal ia sudah menunggu sejak Agustus tahun lalu.

"Dari Agustus kemarin 17, karena belum ada tayangan yang serupa kan kita nanti tuh tahun ini. Apakah yang dulu komen bisa me-remake, bisa begini, memberi nilai dan sebagainya, ternyata tidak ada yang berkontribusi dan tidak ada tayangan film yang khusus proklamasi," ujar Endiarto.

Kekosongan itu yang kemudian mendorong Perfiki bergerak sendiri. Versi live action dianggap sebagai cara paling masuk akal untuk mengisi celah tersebut.

Produksi Tetap Digarap Tim Internal Perfiki

Hak kekayaan intelektual Merah Putih: One for All tidak berpindah tangan. Endiarto memastikan semuanya masih milik Perfiki.

"Iya tetalah, itu kan milik kita, Perfiki," kata Endiarto.

Meski begitu, studio tidak menutup pintu bagi pihak luar yang ingin ikut menggarap. Endiarto menyebut kerja sama dengan rumah produksi maupun perusahaan lain tetap terbuka.

"Kita terbuka kalau ada yang mau, gitu. Kalau ada yang mau, kita sih terbuka. Mau PH, mau company, mau apa pun lah," ujarnya.

Ia memahami bahwa film bertema sejarah kenegaraan sering dipandang kurang komersial. Anggapan itu, menurutnya, jadi salah satu hambatan terbesar.

"Karena memang untuk film proklamasi ini kan banyak yang enggak mau ya karena enggak komersil, makanya kita harus berjibaku untuk mewujudkan ini sebagai bentuk apresiasi kita terhadap perfilman khusus buat 17 Agustus," sambungnya.

Endiarto Kembali Duduk di Kursi Sutradara

Posisi sutradara tidak diserahkan ke orang lain. Endiarto turun langsung mengawal proses syuting dari awal hingga akhir.

Alasannya sederhana: tim Perfiki dianggap paling memahami alur emosi kisah kepahlawanan anak-anak dalam cerita tersebut.

"Sama, nanti saya sendiri nanti. Enggak bisa ke ke orang lain lagi, memang harus tim kita sendiri, tim Perfiki sendirilah," tegasnya.

Belum ada keterangan soal jadwal syuting, daftar pemain, maupun tanggal tayang versi live action ini. Yang jelas, proyek tersebut menambah daftar film bertema sejarah yang coba digarap mandiri oleh studio lokal.

Follow papuaonline.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks