PAPUA — Film drama Perang Dunia II garapan Peter Berg, The Mosquito Bowl, resmi tayang di Netflix dan lebih dulu diputar perdana di AFI Fest. Berdurasi 126 menit atau 2 jam 6 menit, film ini dibintangi Nicholas Galitzine, Bill Skarsgard, Ray Nicholson, dan Tom Francis. Ceritanya diangkat dari kisah nyata pertandingan sepak bola antara dua divisi Marinir di Guadalkanal pada Malam Natal 1944.
Naskah The Mosquito Bowl ditulis Peter Berg bersama Mark L. Smith, diadaptasi dari buku berjudul sama karya Buzz Bissinger. Bissinger sendiri dikenal sebagai penulis Friday Night Lights yang juga pernah diangkat ke layar lebar oleh Berg. Film ini mendapat rating R dari lembaga klasifikasi Amerika Serikat.
Premis dan Para Pemain
Empat tokoh utama The Mosquito Bowl adalah pemain sepak bola kampus elite yang bergabung dengan Korps Marinir setelah pengeboman Pearl Harbor pada 1941. Nicholas Galitzine memerankan John McLaughry, alumni Brown yang pendiam dan penuh pertimbangan.
Ray Nicholson tampil sebagai Tony Butkovich, alumni Purdue yang karismatik dan sempat masuk draf NFL. Sementara itu, Tom Francis dan Bill Skarsgard berperan sebagai David Schreiner dan Bob Bauman, dua lulusan University of Wisconsin. Hanya David yang menyimpan dendam pada Tony karena kekalahan di pertandingan krusial.
Kekuatan pada Sisi Teknis
Kritikus menilai kekuatan utama The Mosquito Bowl terletak pada elemen teknisnya. Sekuens pertempuran yang berlatar teater Pasifik dan digarap di Australia tampil luas dan meyakinkan, melibatkan ratusan tentara yang berlari, berteriak, dan melepaskan tembakan secara bersamaan.
Berg bersama sinematografer Jacques Jouffret memilih bidikan dekat untuk menempatkan penonton dalam pengalaman tempur yang membingungkan dan mengerikan. Penonton menyaksikan rekan jatuh tertembak di tengah percakapan, sementara semburan api penyembur api terlihat di tepi layar.
Namun informasi soal musuh sering kali hanya datang samar. Tentara lain, baik kawan maupun lawan, cuma terlihat di balik pepohonan atau kepulan asap. Kabar yang beredar pun berpindah seperti desas-desus, tanpa kejelasan apa yang menanti di balik punggung bukit berikutnya.
Kritik pada Bangunan Cerita
Di balik kemegahan visualnya, kritikus menilai sisi naratif The Mosquito Bowl kurang greget. Tema-tema yang diangkat terasa mudah ditebak sejak awal, mulai dari persaudaraan yang terbentuk di medan perang hingga sosok pemuda yang hancur secara fisik dan mental.
Naskahnya disebut nyaris tidak membangun jembatan antaradegan. Bahkan pertandingan sepak bola yang menjadi judul film muncul hampir tanpa persiapan berarti. Satu tentara mengeluh soal moral yang rendah, seorang sersan menugaskan dua orang menggelar pertandingan, dan adegan laga langsung dimulai tanpa transisi.
Kesan bahwa film lebih fokus memamerkan kemampuan Berg meracik adegan aksi ketimbang membangun plot dan karakter kian menguat sepanjang durasi. Adegan tempur, latihan militer, dan pertandingan sepak bola mengisi porsi besar, sementara latar emosional para tokohnya dibiarkan tipis.
Kutipan Pembuka dan Nuansa Visual
Film dibuka dengan kutipan terkenal Herbert Hoover soal perang. "Orang-orang tua mendeklarasikan perang, tetapi generasi mudalah yang harus bertempur dan mati," demikian bunyi kutipan yang dikutip dalam film. Kalimat itu menjadi penanda tema yang sudah akrab di banyak film perang.
Palet warna abu-abu, cokelat, dan biru kusam dipilih untuk membangun nuansa serius dan kelam. Kritikus menilai pilihan itu justru berujung pada kesan standar produksi Netflix, alih-alih memberi identitas visual yang khas.
The Mosquito Bowl menyasar penonton yang menyukai drama perang dengan tata produksi rapi dan adegan tempur intens. Bagi penonton yang mencari kedalaman cerita dan karakter, film ini disebut belum mampu memenuhi ekspektasi tersebut.