PAPUA — Kasi Humas Polres Jayawijaya, Ipda Efendi Al Husaini, mengkonfirmasi jumlah korban jiwa bertambah setelah bentrokan yang mulai pecah pada Kamis (14/5) lalu. Dari 19 korban luka, tiga orang di antaranya mengalami luka berat dan masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RUSD) Wamena.
Data pengungsian yang dirilis kepolisian menunjukkan skala dampak kemanusiaan yang besar. Dari total 789 pengungsi, sebanyak 476 orang adalah perempuan dan 315 laki-laki. Kelompok rentan mendominasi angka tersebut, dengan 298 anak-anak dan 122 lansia turut mengungsi ke lokasi-lokasi aman di sekitar Wamena.
Pihak kepolisian masih melakukan pendataan jumlah bangunan yang dirusak atau dibakar saat konflik berlangsung. Belum ada angka pasti mengenai kerugian materiil yang dilaporkan.
Kapolda Papua, Irjen Pol Patrige R Renwarin, mengungkapkan akar konflik bukanlah peristiwa tunggal. Bentrokan ini merupakan eskalasi dari pertikaian lama yang kembali memanas akibat persoalan denda adat. Denda tersebut muncul pasca kecelakaan lalu lintas yang menewaskan anggota DPRD Lanny Jaya pada 17 Mei 2024 silam.
"Konflik berawal dari pertikaian lama yang kembali memanas akibat persoalan denda adat pasca peristiwa kecelakaan lalu lintas yang menewaskan anggota DPR dari Lanny Jaya pada tahun 2024," kata Irjen Patrige dalam keterangannya, Jumat (15/5).
Proses mediasi terkait pembayaran denda adat mengalami kebuntuan. Situasi semakin kompleks dan berujung pada aksi saling serang antara kedua kelompok suku menggunakan senjata tajam dan panah.
Kepolisian mencatat tragedi bertambah setelah jembatan gantung di Kali UE roboh saat dilintasi massa yang hendak melarikan diri atau terlibat dalam bentrokan. Insiden ini menyebabkan puluhan warga hanyut dan hingga kini masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan.
"Tragedi bertambah setelah jembatan gantung di Kali UE roboh saat dilintasi massa, yang menyebabkan puluhan warga hanyut dan hilang," ucap Kapolda Papua.
Polda Papua bersama TNI masih berupaya meredakan situasi dan melakukan patroli skala besar untuk mencegah meluasnya kembali bentrokan susulan di wilayah Jayawijaya.