WAMENA — Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Jayawijaya meminta seluruh elemen masyarakat menjaga stabilitas keamanan di Wamena, Papua Pegunungan. Imbauan ini disampaikan setelah perdamaian adat digelar di Mapolres Jayawijaya pada Jumat (29/5).
Ketua LMA Jayawijaya Herman Doga menekankan bahwa Wamena bukan sekadar pusat pemerintahan kabupaten dan provinsi. Kota ini juga merupakan "Honai" atau rumah adat besar bagi seluruh masyarakat di Papua Pegunungan.
"Konflik sosial setelah adanya perdamaian adat di Mapolres Jayawijaya tidak boleh lagi terjadi di Wamena karena dapat mengganggu seluruh aktivitas di daerah ini," ujar Herman dalam pernyataannya di Wamena, Jumat.
Menurut Herman, konflik antarsuku yang terjadi sebelumnya merupakan konflik saudara. Sebab, masyarakat di wilayah Papua Pegunungan pada dasarnya adalah satu keluarga besar.
"Seluruh masyarakat di wilayah Papua Pegunungan adalah saudara dan keluarga sehingga konflik tidak boleh terjadi lagi," katanya.
Herman menambahkan bahwa konflik yang sempat terjadi telah diselesaikan melalui prosesi adat patah panah. Ritual ini menjadi simbol bahwa ke depan tidak boleh ada lagi perang suku di wilayah Papua Pegunungan, khususnya di Wamena.
Ia menegaskan bahwa Wamena sebagai Honai bersama harus menjadi tempat yang aman dan damai. Konflik yang mencederai nilai adat dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun tidak boleh terjadi lagi.
LMA Jayawijaya mengingatkan bahwa gangguan keamanan dapat menghentikan roda aktivitas warga. Herman mengajak seluruh masyarakat menjaga "Honai besar" tersebut agar aktivitas sosial, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi dapat terus berjalan.
"Kesejahteraan masyarakat dapat terwujud jika situasi tetap kondusif," ujarnya.
Imbauan ini menjadi pengingat bagi seluruh warga bahwa stabilitas keamanan merupakan prasyarat utama untuk membangun kesejahteraan di tanah Papua Pegunungan.