JAYAPURA — Benda mencurigakan di kolong pintu masuk Gereja Pos PI Sion Jaindapa, Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, dipastikan bukan bom. Klarifikasi itu disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Intan Jaya, Yoakim Mujizau, yang turun ke lokasi bersama warga pada Selasa (2/6/2026).
Yoakim menyatakan, ia bersama tim dan warga setempat mengeluarkan benda tersebut dari bawah kolom pintu masuk gereja. Setelah diperiksa, benda itu diketahui merupakan biji besi yang biasa digunakan untuk memukul lonceng gereja.
Informasi awal tentang penemuan benda yang diduga bahan peledak itu menyebar cepat di media sosial dan sejumlah media online di Papua. Foto dan video benda tersebut beredar luas, memicu kekhawatiran di kalangan warga yang baru kembali ke kampung halaman setelah mengungsi lebih dari satu tahun.
Menanggapi hal itu, Yoakim bersama sejumlah warga dan anggota Tim Peduli Kemanusiaan Kabupaten Intan Jaya langsung mendatangi lokasi untuk memverifikasi kebenarannya. Ia memasang tali pada benda tersebut dan mengeluarkannya dari bawah kolom gereja.
“Setelah tiba di lokasi, saya pasang tali di benda yang diduga bom itu, lalu mengeluarkannya dari bawah kolom gereja. Ternyata benda itu adalah biji besi yang biasa digunakan untuk memukul lonceng gereja. Di daerah pesisir, benda serupa biasa dipakai sebagai pemberat saat memancing di laut,” tegas Yoakim dalam pernyataan video yang diterima redaksi.
Yoakim menegaskan bahwa informasi yang beredar sebelumnya tidak benar. Ia meminta masyarakat lebih bijak dalam mencerna setiap informasi yang belum terverifikasi. “Kami sampaikan kepada masyarakat Intan Jaya dan Papua, jika belum mengetahui kebenaran suatu informasi, tolong jangan disebarkan. Menyebarkan informasi yang tidak benar hanya akan membuat masyarakat takut untuk kembali ke kampung. Informasi seperti ini akan membuat warga yang sudah mengungsi sejak tahun lalu semakin takut untuk pulang,” ujarnya.
Warga Kampung Jaindapa diketahui telah mengungsi selama lebih dari satu tahun akibat situasi keamanan di wilayah tersebut. Sebagian mengungsi ke Kabupaten Nabire, Mimika, dan sejumlah daerah lain. Kerinduan terhadap kampung halaman mendorong beberapa jemaat di bawah pimpinan Pendeta Yan Weya, S.Pdk untuk pulang dan membersihkan fasilitas umum serta lingkungan gereja. Namun, dalam kegiatan tersebut mereka justru menemukan benda mencurigakan yang diduga bom.
Penemuan ini menimbulkan ketakutan dan trauma baru bagi masyarakat yang baru berupaya kembali ke kehidupan normal. Sebelumnya, Sekretaris Umum Gereja Kingmi Sinode Papua, Pendeta Dominggus Pigay, M.Th, meminta dilakukan investigasi menyeluruh. “Gereja Kingmi di Tanah Papua bukan sarang teroris. Karena itu kami meminta negara dan aparat berwenang mengungkap secara jelas siapa yang bertanggung jawab atas adanya benda yang diduga bom di lingkungan gereja,” tegas Dominggus pada Rabu (3/6).
Pihak gereja juga mengimbau pemerintah, lembaga kemanusiaan, organisasi masyarakat sipil, serta lembaga hak asasi manusia (HAM) untuk terus memantau situasi warga di Jaindapa dan Intan Jaya. Masyarakat membutuhkan jaminan keamanan agar dapat kembali menjalani kehidupan, beribadah, dan beraktivitas secara normal di kampung halaman mereka.