SENTANI — Setiap Juni, semangat Bung Karno tentang kemandirian bangsa kembali mengemuka. Di Papua, refleksi itu berwujud pada sagu, pangan lokal yang telah menjadi sumber kehidupan masyarakat selama berabad-abad. Lebih dari sekadar karbohidrat, pohon sagu adalah cerminan kearifan lokal dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam.
Bagi masyarakat Papua, sagu bukanlah komoditas semata. Batangnya menghasilkan pati untuk makanan pokok, daunnya menjadi atap rumah tradisional, dan pelepahnya dipakai untuk kebutuhan rumah tangga. Sistem pemanfaatan ini diwariskan secara turun-temurun, menunjukkan pengetahuan ekologis yang kuat dalam menjaga keberlangsungan lingkungan.
Namun, modernisasi membawa tantangan. Perubahan pola konsumsi, alih fungsi lahan, dan minimnya perhatian terhadap pangan lokal membuat eksistensi sagu kian terpinggirkan. Generasi muda di perkotaan mulai beralih ke makanan instan dan produk impor yang dianggap lebih praktis.
Tanpa upaya serius, warisan budaya ini bisa tergerus. Padahal, sagu menyimpan potensi besar sebagai sumber pangan berkelanjutan dan ramah lingkungan. Momentum Bulan Bung Karno dinilai tepat untuk memperkuat komitmen terhadap pangan lokal.
Pelestarian sagu tidak bisa hanya dibebankan pada masyarakat adat. Pemerintah, akademisi, dan sektor swasta harus turun tangan. Beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan antara lain edukasi kepada generasi muda, perlindungan kawasan hutan sagu, dan inovasi produk berbasis sagu agar memiliki nilai tambah secara ekonomi.
Bung Karno pernah mengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri tanpa bergantung pada negara lain. Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, pesan ini kembali relevan.
Mengangkat kembali sagu sebagai pangan utama berarti menghidupkan kembali semangat kemandirian. Di Papua, sagu adalah identitas, sumber kehidupan, sekaligus masa depan. Kedaulatan pangan bukan sekadar soal memenuhi kebutuhan dasar, melainkan juga tentang menjaga martabat dan keberlanjutan bangsa.