JAYAPURA — PMI Papua tidak lagi hanya bergerak di darat. Organisasi kemanusiaan ini kini turun ke laut untuk menanam karang. Kegiatan itu dikemas dalam forum "Ngopi Mantap" (Ngobrol Pintar Masyarakat Aman dan Tangguh Bencana) yang digelar Selasa lalu.
Ketua PMI Papua Zekeus Degei menegaskan bahwa menyelamatkan nyawa manusia tidak bisa dipisahkan dari menyelamatkan alam tempat manusia hidup. "Mitigasi bencana tidak selalu harus berupa pembangunan dinding beton yang kaku di tepi pantai," ujarnya.
Menurut Zekeus, terumbu karang yang sehat merupakan benteng alami yang mampu meredam energi ombak hingga lebih dari 90 persen sebelum menyentuh daratan. Transplantasi karang disebutnya sebagai investasi perlindungan bagi anak cucu.
Kegiatan ini mengusung tema "Benteng Biru Pesisir Papua: Transplantasi Terumbu Karang sebagai Upaya Mitigasi Bencana Berbasis Ekosistem". Peserta tidak hanya berdiskusi, tetapi juga melakukan simulasi pengikatan bibit karang pada substrat.
"Ketika PMI turun ke laut untuk menanam karang, kami sedang menjalankan misi kemanusiaan yang komprehensif," kata Zekeus. Ia menyebut upaya ini melindungi jiwa dari bencana sekaligus menjaga ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat pesisir.
PMI Papua ingin mengirimkan pesan kuat ke dunia bahwa mereka berkomitmen penuh terhadap agenda global, khususnya Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 14 tentang Pembangunan Ekosistem Laut. Merawat terumbu karang bukan sekadar urusan estetika bawah laut.
"Ini tentang menjaga rumah bagi ikan yang menjadi sumber pangan dan mata pencaharian nelayan," tambah Zekeus. Pihaknya mengajak masyarakat tetap menjaga media transplantasi karang maupun tanaman darat di pesisir.