JAYAPURA — Produksi ikan di perairan Papua yang kerap naik-turun menjadi persoalan klasik bagi nelayan dan distributor. Saat musim panen raya, harga ikan anjlok karena pasokan melimpah. Namun di musim paceklik, harga meroket dan pasokan ke pasar-pasar tradisional terhenti.
Pemerintah Provinsi Papua menilai perlu ada solusi permanen. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah pembangunan fasilitas cold storage atau ruang penyimpanan dingin guna menjaga kualitas hasil tangkapan. Fasilitas ini berfungsi sebagai buffer, menyerap kelebihan pasokan saat produksi tinggi dan melepasnya saat produksi menurun.
Pembangunan cold storage ini akan diprioritaskan di daerah-daerah sentra perikanan. Beberapa lokasi yang masuk dalam perencanaan awal adalah kawasan pesisir Teluk Youtefa, Kabupaten Jayapura, dan sejumlah titik di pesisir utara Papua.
Belum dirilis angka pasti anggaran proyek ini. Namun pihak Pemprov memastikan skema pembiayaan akan melibatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta potensi kerja sama dengan pemerintah pusat atau pihak swasta.
Nelayan selama ini menjual hasil tangkapan dengan harga murah saat musim ikan tiba. Dengan adanya cold storage, mereka bisa menyimpan ikan dan menjualnya saat harga lebih baik. Konsumen pun diuntungkan karena harga ikan tidak lagi melonjak drastis di musim sepi tangkapan.
“Kami ingin pasokan ikan tetap stabil sepanjang tahun. Cold storage ini menjadi infrastruktur kunci untuk mewujudkan ketahanan pangan berbasis perikanan di Papua,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua dalam pernyataan resmi.
Pembangunan cold storage ditargetkan mulai berjalan pada tahun anggaran mendatang. Tahap awal akan difokuskan pada pembangunan unit penyimpanan berkapasitas kecil hingga menengah di sentra-sentra pendaratan ikan.
Pemprov Papua juga akan mendorong pembentukan koperasi nelayan untuk mengelola fasilitas ini secara kolektif. Dengan begitu, nelayan tidak lagi bergantung pada tengkulak yang kerap menekan harga saat pasokan melimpah.