JAYAPURA — Gubernur Papua Fakhiri menegaskan bahwa lulusan perguruan tinggi asal Papua memiliki kapasitas yang setara dengan tenaga pendidik dari luar provinsi. Ia mendorong agar guru-guru lokal menjadi pengisi utama di Sekolah Rakyat, program anyar yang tengah dirancang pemerintah pusat untuk menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Dalam pernyataannya, Fakhiri menyebut bahwa sumber daya manusia di bidang pendidikan di Papua tidak boleh dipandang sebelah mata. Ia mencontohkan banyaknya lulusan terbaik dari Universitas Cenderawasih dan institusi lain yang siap bersaing.
“Lulusan asal Papua memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan tenaga pendidik dari luar daerah,” kata Fakhiri dalam keterangan yang diterima di Jayapura, Senin lalu.
Menurut Fakhiri, guru lokal lebih memahami konteks sosial dan budaya masyarakat setempat. Hal ini dinilai krusial untuk menekan angka putus sekolah dan meningkatkan kualitas pembelajaran di daerah pedalaman dan pegunungan.
Usulan ini muncul di tengah rencana pemerintah pusat yang akan merintis Sekolah Rakyat di sejumlah provinsi, termasuk Papua. Sekolah ini menyasar anak-anak dari keluarga miskin ekstrem dan rentan miskin.
Jika usulan ini terealisasi, ribuan guru honorer dan lulusan baru di Papua akan memiliki peluang kerja formal yang lebih besar. Pemerintah provinsi diharapkan segera menyusun peta kebutuhan guru berdasarkan sebaran Sekolah Rakyat yang akan dibangun.
Langkah ini juga sejalan dengan upaya memperkuat identitas lokal dalam sistem pendidikan nasional. Dengan guru asli Papua, proses belajar mengajar diharapkan lebih adaptif terhadap kearifan lokal dan bahasa ibu siswa.
Belum ada kepastian jadwal pembangunan Sekolah Rakyat di Papua. Namun, Dinas Pendidikan Provinsi Papua disebut tengah menyusun data tenaga pendidik lokal yang bisa direkrut. Fakhiri meminta agar proses rekrutmen mengutamakan putra-putri daerah tanpa mengorbankan standar kompetensi.
“Kita buktikan bahwa guru Papua mampu. Beri mereka kesempatan di sekolah ini,” tegasnya.