PAPUA — Fenomena mabuk perjalanan di mobil listrik bukan sekadar keluhan pribadi. Karakteristik penggerak EV yang berbeda dari mobil bermesin bensin menjadi biang kerok utamanya. Perpindahan tenaga yang instan dan deselerasi yang agresif menciptakan sensasi tidak nyaman yang tidak ditemukan pada kendaraan konvensional.
Sistem pengereman regeneratif dirancang untuk mengisi ulang baterai saat pedal gas dilepas. Mobil melambat secara signifikan tanpa perlu menginjak pedal rem. Di Tesla, sistem ini bahkan bisa diatur pada level tinggi sehingga mobil berhenti hampir sepenuhnya tanpa menyentuh pedal rem.
Bagi pengemudi, perilaku ini terasa presisi dan efisien. Namun bagi penumpang, perubahan kecepatan yang mendadak tanpa pola yang bisa diprediksi membuat otak kesulitan menyesuaikan diri. Tubuh merespons dengan pusing dan mual.
Torsi puncak yang tersedia sejak putaran nol membuat EV melesat jauh lebih cepat dari mobil bensin. Sensasi dorongan yang tiba-tiba ini memang mengasyikkan di jalan lurus, tapi jadi masalah saat lalu lintas padat dengan akselerasi dan pengereman berulang.
Penumpang yang tidak memegang kemudi tidak memiliki antisipasi terhadap dorongan atau hentakan tersebut. Kepala dan leher ikut tersentak, memicu sinyal membingungkan ke otak yang berujung pada mabuk perjalanan.
Mobil bermesin bensin memiliki respons throttle yang lebih bertahap. Pengereman juga lebih linear karena mengandalkan gesekan rem mekanis. Pola ini sudah familiar bagi tubuh manusia sejak puluhan tahun.
EV mengubah pola tersebut secara fundamental. Perpindahan antara tenaga dan pengereman terjadi cepat dan ekstrem. Penumpang yang sudah terbiasa dengan ritme mobil konvensional butuh waktu adaptasi lebih lama di dalam kabin EV.
Pengemudi bisa mengurangi efek ini dengan mengatur level regenerative braking ke mode rendah. Beberapa produsen seperti Tesla juga menyediakan opsi "creep mode" yang meniru perilaku mobil matik konvensional saat berhenti.
Pengemudi juga disarankan mengelola pedal gas lebih halus, terutama saat membawa penumpang yang sensitif terhadap gerakan. Menghindari akselerasi penuh dan deselerasi mendadak di lalu lintas perkotaan bisa membuat perjalanan terasa jauh lebih nyaman bagi semua orang di dalam kabin.