PAPUA — Data resmi BNPB menunjukkan jumlah korban jiwa terkonsentrasi di Pulau Flores bagian barat. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan korban tewas terbanyak, mencapai 25 orang, disusul Manggarai Timur dengan 20 orang. Empat kabupaten/kota lainnya melaporkan korban jiwa di bawah lima orang, yakni Sikka, Ende, Manggarai Barat, dan Nagekeo.
“Untuk pemutakhiran korban persore hari ini, total kami mencatat 53 jiwa meninggal dunia dengan rincian Kabupaten Manggarai Barat 1 jiwa, Manggarai Timur 20 jiwa, Kabupaten Manggarai 25 jiwa, Nagekeo 1 jiwa, Sikka 4 jiwa, dan Ende 2 jiwa,” ujar Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari dalam konferensi pers daring, Minggu (16/8/2026).
Dampak kerusakan fisik terus bertambah seiring proses pendataan di lapangan. BNPB menerima laporan 154 rumah rusak berat, 49 rumah rusak sedang, dan 38 rumah rusak ringan. Angka ini disebut masih akan berubah karena tim verifikasi belum menjangkau seluruh desa terpencil.
“Hingga hari ini, hari kedua, data dari daerah yang masuk ke BNPB untuk rumah rusak berat berjumlah 154 unit, rumah rusak sedang 49 unit, dan rumah rusak ringan 38 unit. Tentu saja data ini masih berkembang, akan dinamis,” tuturnya.
Kepada warga yang ketakutan, Abdul Muhari mengimbau agar tetap waspada terhadap gempa susulan. Hingga hari kedua, seismolog mencatat 995 kali gempa susulan, tetapi hanya 46 di antaranya yang dirasakan getarannya oleh masyarakat.
Pemerintah daerah telah mengaktifkan status tanggap darurat untuk mempercepat penanganan. Kabupaten Manggarai menetapkan masa tanggap darurat selama 90 hari. Sementara itu, Kabupaten Manggarai Timur masih memproses surat keputusan (SK) tanggap darurat untuk jangka waktu 14 hari. Provinsi NTT juga tengah menempuh proses serupa di tingkat provinsi.
Pada fase ini, prioritas utama pemerintah adalah pencarian dan pertolongan korban yang diduga masih tertimbun, serta pemenuhan kebutuhan logistik dasar. Distribusi makanan, air bersih, dan tenda pengungsian menjadi fokus utama karena sebagian akses jalan di pedalaman Manggarai dikabarkan terputus akibat longsor.
Masyarakat yang rumahnya rusak berat diimbau segera mengungsi ke titik-titik aman yang telah ditentukan pemerintah desa. Petugas gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, dan relawan masih melakukan penyisiran di lokasi terdampak untuk memastikan tidak ada korban yang belum tertangani.