PAPUA — Pasar valuta asing domestik memulai perdagangan dengan hati-hati. Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah masih bersumber dari ketidakpastian konflik di kawasan Timur Tengah yang mendorong harga komoditas energi naik. Kondisi ini biasanya mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.
Meski demikian, potensi pelemahan rupiah diprediksi terbatas. Pelaku pasar cenderung menahan diri untuk mengambil posisi besar sebelum pengumuman kebijakan suku bunga acuan dari Bank Indonesia.
Dari kelompok mata uang utama negara maju, dolar Australia menjadi yang paling tertekan dengan pelemahan 0,17 persen. Poundsterling Inggris melemah tipis 0,01 persen, sedangkan euro dan franc Swiss masing-masing menguat 0,01 persen dan 0,05 persen.
Keputusan BI akan menentukan arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan. Jika bank sentral memberikan sinyal hawkish atau menaikkan suku bunga, hal itu bisa menjadi angin segar bagi penguatan rupiah. Sebaliknya, sikap akomodatif berpotensi memperpanjang pelemahan.
"Namun, pelemahan mungkin akan terbatas, dengan investor cenderung wait and see menantikan RDG BI sore ini," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Keputusan suku bunga acuan akan diumumkan pada sore hari ini. Pergerakan rupiah setelah pengumuman tersebut akan menjadi indikasi arah pasar untuk sesi perdagangan berikutnya.
Investasi mengandung risiko.