Menteri Dody Hanggodo Pastikan Percepatan Pemulihan Air Bersih Pasca Gempa NTT Berkekuatan 7,7 SR

Penulis: Ragil  •  Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:21:08 WIB
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo meninjau penanganan sarana air bersih pascagempa NTT berkekuatan 7,7 SR.

JAKARTA — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bergerak cepat menangani dampak gempa berkekuatan 7,7 SR yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 lalu. Upaya ini difokuskan pada pemeriksaan dan penanganan sarana prasarana air minum agar layanan air bersih tetap berjalan selama masa tanggap darurat.

Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan bahwa infrastruktur yang terkait langsung dengan kebutuhan dasar warga menjadi prioritas utama dalam pemulihan pascabencana. Ia menekankan pentingnya memastikan akses air bersih dan sanitasi segera tersedia bagi masyarakat.

"Yang penting sekarang bagaimana kebutuhan masyarakat bisa segera kita layani. Karena itu, infrastruktur yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar, termasuk sarana air bersih dan sanitasi, harus segera kita cek dan tangani sesuai kondisi di lapangan," kata Menteri Dody Hanggodo.

Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPBPK) NTT telah memeriksa berbagai fasilitas air minum di Kabupaten Nagekeo, Ende, dan Sikka. Pemeriksaan mencakup Instalasi Pengolahan Air (IPA), jaringan perpipaan, sarana distribusi, serta tampungan air yang digunakan masyarakat.

Salah satu perbaikan yang dilakukan adalah pada jaringan perpipaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Inpres 2024 IKK Nangaba di Kabupaten Ende. Kerusakan pada jaringan ini sempat mengganggu distribusi air, namun kini telah diperbaiki.

Perbaikan jaringan tersebut dilakukan bersama PDAM Kabupaten Ende, dimulai pada 16 Agustus dan selesai pada malam 17 Agustus 2026. Setelah perbaikan rampung, aliran air bersih kembali mengalir hingga ke sambungan rumah warga.

Dukungan Lapangan dan Mobilisasi Personel

Kementerian PU juga mengerahkan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) dari Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) untuk mendata kondisi sarana air minum di lapangan. Mereka tidak hanya mencatat kerusakan, tetapi juga langsung menangani sarana yang terganggu agar layanan bisa berfungsi kembali.

Sebanyak 10 personel tambahan dikirim dari Kupang untuk memperkuat tim di Maumere, Ende, dan Nagekeo. Mereka bertugas memeriksa kondisi sarana serta mengidentifikasi kebutuhan dukungan lanjutan di setiap lokasi terdampak.

Di Kabupaten Nagekeo, 3 unit Mobil Tangki Air (MTA) dikerahkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Dari jumlah tersebut, 2 unit MTA telah tiba di lokasi, sementara 1 unit lainnya adalah MTA pinjam pakai yang sebelumnya digunakan untuk penanganan banjir Mauponggo.

Selain itu, disiapkan 16 unit Hidran Umum (HU) yang terdiri dari 8 unit dukungan yang tersedia saat ini dan 8 unit HU pinjam pakai. Di Kupang, Kementerian PU juga menyiagakan 2 unit mobil tangki air dan 1 unit truk tinja untuk mendukung penanganan bencana.

Menteri PU Dody menegaskan bahwa penanganan dilakukan secara bertahap berdasarkan hasil pemeriksaan dan kebutuhan di lapangan.

"Kami akan terus lakukan pengecekan dan inventarisasi di lapangan supaya penanganannya tepat sasaran. Kalau sumber air dan jaringan masih bisa difungsikan, kami optimalkan. Kalau belum, kita siapkan alternatif agar masyarakat tetap mendapatkan layanan air bersih selama masa tanggap darurat," jelas Dody Hanggodo.

Kementerian PU terus menginventarisasi pos-pos pengungsian untuk memastikan kebutuhan air bersih dan sanitasi terpenuhi dengan cepat. Jika diperlukan, mobilisasi prasarana dan sarana air minum akan dilakukan dari luar NTT, termasuk dari depo di Surabaya.

Pemenuhan air bersih juga akan dioptimalkan melalui SPAM atau PDAM bila jaringan tersedia dan berfungsi. Namun, jika jaringan perpipaan terganggu atau belum ada, dukungan akan diberikan melalui mobil tangki, hidran umum, tampungan air, dan sarana pendukung lainnya sesuai kebutuhan di lapangan.

Reporter: Ragil
Back to top