Suku Kanum di Merauke Serahkan Tanah Ulayat untuk Cetak Sawah Rakyat, Ritual Bakar Batu Tandai Pembukaan Lahan

Penulis: Ragil  •  Minggu, 23 Agustus 2026 | 15:32:01 WIB
Kepala Suku Kanum memimpin ritual adat Bakar Batu sebagai tanda penyerahan tanah ulayat untuk program Cetak Sawah Rakyat di Kampung Sota, Merauke.

MERAUKE — Prosesi adat pembukaan lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR) berlangsung khidmat di Jalur 4A, Kampung Sota, Distrik Sota, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Lahan ulayat milik Nikodemus Ndiken seluas 100 x 1.000 meter resmi diserahkan untuk dikelola sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan.

Ritual adat Bakar Batu menjadi penanda dimulainya kegiatan pembangunan yang melibatkan masyarakat adat, pemerintah daerah, aparat keamanan, serta kontraktor pelaksana. Suasana sakral menyelimuti lokasi sejak awal acara hingga prosesi selesai pada siang hari.

Kepala Suku Ingatkan Jaga Kesucian Tanah Ulayat

Kepala Suku Kanum, Marten Ndiken, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas dukungan pemerintah dan aparat keamanan dalam mengawal program CSR. Ia mengingatkan seluruh pihak yang terlibat untuk menjaga kesucian tanah ulayat dengan menghormati nilai-nilai adat setempat.

Salah satu larangan yang ditekankan adalah tidak berbicara kotor di lokasi kegiatan. Ketua Adat, Daud Ndimar, kemudian memimpin doa dan memohon restu leluhur agar program berjalan lancar tanpa hambatan.

Pemilik Lahan: Tanah Ini untuk Kepentingan Bersama

Nikodemus Ndiken selaku pemilik hak ulayat menyatakan sikap resmi menerima dan merelakan tanahnya dikelola untuk program CSR. Ia menegaskan penyerahan lahan tersebut dilakukan demi kepentingan bersama masyarakat.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah yang telah memfasilitasi proses ini," ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi.

Darah Babi Jadi Simbol Penyatuan Tradisi dan Pembangunan

Puncak prosesi adat ditandai dengan pemukulan babi oleh keluarga Ndiken. Darah babi kemudian dioleskan pada alat berat yang akan digunakan untuk membuka lahan, sebuah simbol penyatuan unsur tradisi dengan kegiatan pembangunan modern.

Rangkaian ritual ini disaksikan langsung oleh sejumlah pejabat dan aparat, di antaranya staf PU Kabupaten Merauke, Kapten Inf Yakiri selaku Danpos Mamta, Lettu Inf Nasrullah dari Satgas Ketapang, serta Aiptu Robi Kanit Intel Polsek Sota.

Dikerjakan Dua Kontraktor, Target Ketahanan Pangan

Program Cetak Sawah Rakyat ini dikerjakan oleh PT Mandiri Agung Papua dan CV Bintang Yoga. Kedua kontraktor dipercaya mengawal jalannya proyek yang diharapkan mampu meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat Papua Selatan.

Prosesi adat berakhir sekitar pukul 12.02 WIT dengan suasana aman dan tertib. Sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat adat dalam satu rangkaian kegiatan menunjukkan nilai tradisi berjalan beriringan dengan program pembangunan nasional.

Reporter: Ragil
Sumber: politikindonesia.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top