NIM Bank Jumbo Terus Menyusut hingga Kuartal II 2026, Ini Pemicunya

Penulis: Fajar  •  Senin, 24 Agustus 2026 | 17:20:31 WIB
NIM bank jumbo tercatat menyusut pada kuartal II 2026 akibat tekanan biaya dana yang meningkat lebih cepat daripada suku bunga kredit.

PAPUA — Fenomena penipisan margin bunga tengah melanda perbankan jumbo di Indonesia. Data laporan keuangan kuartalan menunjukkan hampir semua bank besar mencatatkan penurunan net interest margin (NIM) pada periode April-Juni 2026, baik jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi contoh paling jelas. NIM bank pelat merah ini turun dari 4,46% pada kuartal I 2026 menjadi 4,34% pada kuartal II 2026. Secara tahunan, margin tersebut terkoreksi 27 basis poin dari posisi 4,61% pada Juni 2025.

Tekanan Biaya Dana Lebih Cepat dari Bunga Kredit

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menjelaskan bahwa penurunan NIM tidak serta-merta membuat bisnis perbankan kurang menarik. Industri saat ini tengah menghadapi tekanan spread dan cost of fund.

"Suku bunga kredit sudah lebih dulu turun ketika BI melakukan pelonggaran pada 2025. Sementara ketika likuiditas mengetat, biaya dana atau deposito kembali meningkat dan penyesuaiannya lebih cepat daripada bunga kredit. Kondisi ini yang membuat NIM tertekan," kata Nafan kepada Katadata.co.id, Senin (24/8).

Spread Bunga Kredit dan Deposito Menyempit 40 bps

Tekanan pada margin perbankan terlihat jelas dari data Uang Beredar (M2) Bank Indonesia. Rata-rata tertimbang suku bunga kredit pada Juni 2026 tercatat 8,79%, naik dari 8,70% pada Mei 2026. Pada periode yang sama, suku bunga deposito meningkat lebih tajam.

  • Bunga deposito tenor 1 bulan: naik ke 4,77% dari 4,28%
  • Bunga deposito tenor 3 bulan: naik ke 5,03% dari 4,73%
  • Bunga deposito tenor 6 bulan: naik ke 4,95% dari 4,65%
  • Bunga deposito tenor 12 bulan: naik ke 5,44% dari 4,50%

Alhasil, selisih antara bunga kredit dan deposito tenor satu bulan menyempit menjadi 4,02 poin persentase pada Juni 2026, dari 4,42 poin persentase pada bulan sebelumnya. Artinya, spread tersebut menyusut sekitar 40 basis poin hanya dalam sebulan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mencatat NIM industri perbankan turun ke 4,34% pada Juni 2026 dari 4,38% pada Maret 2026.

Kenaikan BI-Rate Bertahap hingga 5,75%

Tekanan terhadap margin terjadi setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan secara bertahap hingga 5,75% pada Juni 2026. Sepanjang tahun ini, BI telah menaikkan BI-Rate sebanyak tiga kali dari posisi awal 4,75%, sebelum akhirnya mempertahankan suku bunga pada Juli dan Agustus.

Nafan menambahkan, kompetisi memperebutkan dana murah (current account saving account/CASA) semakin ketat di antara bank, sementara pertumbuhan kredit tetap harus dijaga. Kondisi ini membuat profitabilitas per unit kredit menurun, meskipun bisnis secara fundamental masih bertumbuh.

Laba Bank Besar Masih Tumbuh 9% hingga Mei 2026

Meski margin tertekan, kinerja laba empat bank besar masih mencatatkan pertumbuhan sekitar 9% hingga Mei 2026. Pendapatan bunga bersih naik 7,8% pada periode yang sama, menunjukkan bahwa volume bisnis masih ekspansif.

"Saya melihat tekanan NIM ini lebih bersifat siklus dan kemungkinan sudah mendekati fase stabilisasi, terutama apabila kondisi likuiditas membaik dan biaya dana mulai turun," ujar Nafan.

Dari perspektif investasi, ia menilai valuasi saham perbankan besar yang sudah terkoreksi mulai menarik untuk akumulasi. Namun, keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

Reporter: Fajar
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top