BMKG Catat 1.689 Titik Panas di Tanah Papua dalam Sehari, Merauke Terbanyak dengan 391 Titik

Penulis: Ragil  •  Rabu, 26 Agustus 2026 | 23:59:01 WIB
BMKG mencatat 1.689 titik panas di enam provinsi di Tanah Papua dalam sehari, dengan Merauke sebagai wilayah terbanyak mencapai 391 titik.

JAYAPURA — Sebanyak 1.689 titik panas terdeteksi menyebar di enam provinsi di Tanah Papua dalam kurun waktu satu hari. Prakirawan BMKG Wilayah V Jayapura, Sri Dewi, memaparkan sebaran titik panas tersebut merata di Papua, Papua Pegunungan, Papua Selatan, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Barat Daya.

Data pemantauan pada 25-26 Agustus 2026 menunjukkan tiga daerah dengan konsentrasi titik panas tertinggi. Kabupaten Merauke memimpin dengan 391 titik, disusul Kabupaten Mappi dengan 275 titik, dan Kabupaten Fak-Fak dengan 159 titik.

Mayoritas Titik Panas Berada pada Kategori Kepercayaan Sedang

Dari total temuan, sekitar 1.485 titik berada pada kategori kepercayaan sedang. Sisanya terbagi antara kategori kepercayaan tinggi sebanyak 9,6 persen dan kategori rendah sebesar 2,5 persen.

Kabupaten Yahukimo disebut menjadi salah satu wilayah yang paling diwaspadai. Sebab, daerah tersebut memiliki sebaran titik panas dengan kategori kepercayaan tinggi yang signifikan dan berpotensi memicu kebakaran meluas.

Kombinasi Musim Kemarau dan El Nino Perbesar Risiko Bencana

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari periode puncak musim kemarau yang tengah berlangsung. Kombinasi dengan indikasi munculnya El Nino dinilai memperbesar risiko bencana, mengingat dampaknya memicu penurunan curah hujan, kekeringan, hingga kebakaran hutan dan lahan yang meluas.

Selain merusak lingkungan, kondisi ini berisiko menurunkan kualitas udara akibat kabut asap. BMKG memperingatkan potensi gangguan kesehatan seperti ISPA, terganggunya jarak pandang untuk transportasi darat maupun udara, serta kerusakan lahan pertanian dan perkebunan warga.

BMKG Minta Patroli Gabungan dan Edukasi Warga Digencarkan

Menyikapi risiko tersebut, BMKG mendorong pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat kesiapan kelembagaan. Penguatan ini mencakup pembaruan rencana kontingensi, kesiapan personel dan peralatan penanggulangan, serta sistem peringatan dini yang mengintegrasikan data titik panas, kondisi cuaca, dan perkembangan El Nino.

Di sisi pencegahan lapangan, intensitas patroli gabungan diminta ditingkatkan, khususnya untuk mengawasi aktivitas pembukaan lahan yang berisiko memicu kebakaran. Edukasi kepada masyarakat di kawasan rawan karhutla juga perlu digencarkan, seiring imbauan agar warga tidak membakar lahan saat membuka kebun atau membersihkan area pertanian.

Aspek logistik air turut menjadi perhatian BMKG, mulai dari memastikan ketersediaan sumber air hingga peralatan pemadaman dini. Kewaspadaan ekstra diminta khusus untuk wilayah dengan konsentrasi titik panas tinggi seperti Yahukimo.

"Pantau informasi cuaca, iklim, perkembangan fenomena El Niño, dan informasi titik api dari BMKG sebagai dasar langkah antisipasi dan mitigasi dan melaporkan apabila ditemukan titik api, asap, atau indikasi kebakaran kepada instansi yang berwenang agar penanganan dapat dilakukan secara cepat sebelum kebakaran meluas," pungkas Sri Dewi.

Reporter: Ragil
Sumber: afu.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top