Pencarian

Cloudflare Pangkas 1.100 Karyawan demi AI Meski Cuan Besar

Minggu, 10 Mei 2026 • 03:30:01 WIB
Cloudflare Pangkas 1.100 Karyawan demi AI Meski  Cuan Besar
Cloudflare pangkas 1.100 karyawan meski pendapatan kuartal pertama 2026 mencapai rekor US$639,8 juta.

Cloudflare membukukan rekor pendapatan US$639,8 juta (sekitar Rp10,5 triliun) pada kuartal pertama 2026, melonjak 34 persen secara tahunan. Namun, performa finansial gemilang ini justru dibarengi keputusan mengejutkan untuk memangkas 1.100 karyawan di hampir seluruh divisi operasional.

CEO Cloudflare Matthew Prince menegaskan langkah ini bukan upaya penghematan biaya atau hukuman atas kinerja buruk individu. Sebaliknya, efisiensi dari penggunaan agentic AI telah mengubah struktur kebutuhan tenaga kerja perusahaan secara fundamental.

Paradoks Pertumbuhan dan Kerugian Bersih

Meski pendapatan meroket, Cloudflare masih mencatatkan kerugian bersih US$62 juta (sekitar Rp1,02 triliun). Angka ini membengkak dari kerugian tahun sebelumnya, namun manajemen mengeklaim persentase kerugian terhadap pendapatan sebenarnya terus mengecil.

Indikator positif lain muncul dari Remaining Performance Obligations (RPO) yang menembus US$2,5 miliar (sekitar Rp41,2 triliun). Nilai kontrak masa depan ini tumbuh 34 persen, mencerminkan besarnya kepercayaan pelanggan yang layanannya belum sepenuhnya diberikan.

CFO Cloudflare Thomas Seifert menjelaskan pengurangan staf menyasar semua tim di berbagai wilayah geografi. Pengecualian hanya berlaku bagi tim penjualan (sales) yang memegang kuota pendapatan langsung demi menjaga momentum pertumbuhan bisnis.

Efek "Obeng Elektrik" dan Lonjakan Produktivitas

Matthew Prince mengungkapkan penggunaan AI di internal Cloudflare melonjak lebih dari 600 persen hanya dalam tiga bulan terakhir. Ia mengibaratkan transisi ini seperti beralih dari obeng manual ke obeng elektrik yang jauh lebih cepat dan efisien.

“Kami melihat lonjakan produktivitas masif sejak November lalu. Anggota tim kini bisa menjadi sepuluh hingga 100 kali lebih produktif dari sebelumnya,” ujar Prince dalam panggilan konferensi bersama analis dan investor.

Implementasi AI ini merambah departemen Sumber Daya Manusia (HR), keuangan, hingga pemasaran. Karyawan kini menjalankan ribuan sesi agen AI setiap hari untuk menuntaskan beban kerja rutin yang sebelumnya memakan waktu lama.

Otomasi Total di Lini Riset dan Pengembangan

Sektor R&D menjadi divisi paling terdampak oleh transformasi radikal ini. Saat ini, hampir seluruh tim pengembang Cloudflare menggunakan platform Workers milik perusahaan sendiri, termasuk fitur vibe coding untuk mempercepat penulisan kode perangkat lunak.

Cloudflare kini menerapkan protokol pengawasan otomatis yang sangat ketat. Seluruh kode yang diproduksi dan diluncurkan kini ditinjau sepenuhnya oleh agen AI otonom sebelum diimplementasikan secara luas ke produk perusahaan.

“Tindakan ini mendefinisikan cara perusahaan dengan pertumbuhan tinggi beroperasi dan menciptakan nilai di era AI,” tulis Matthew Prince dan Co-founder Michelle Zatlyn. Langkah Cloudflare ini menyusul raksasa teknologi seperti Meta, Microsoft, dan Amazon yang mulai mengoptimalkan peran AI dalam efisiensi operasional.

Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks